Cari Blog Ini

Jumat, 30 Desember 2011

Keseringan Nonton TV Bisa Picu Stres

Anda ingin hidup jauh dari stress? hindarilah  terlalu sering nongkrong di depan televisi berlama-lama. Demikian hasil riset tim peneliti AS
Ingin menghindari depresi terutama di kalangan muda? Jangan terlampau sering nongkrong di depan televisi alias nonton program-program TV. Riset di AS menunjukkan anak remaja atau ABG yang terlampau sering nonton tayangan TV sampai berjam-jam, kemungkinan menghadapi risiko lebih tinggi kena depresi seperti orang dewasa.
Sejumlah remaja yang dilibatkan dalam riset ini menghadapi keganjilan lebih banyak seperti depresi pada tujuh tahun kemudian. Risiko ini meningkat setiap jam menonton televisi dalam satu hari. Lebih dari 4.000 remaja berpartisipasi dalam riset tersebut. Bukti sama didapatkan untuk media elektronik lainnya.
“Kami tak dapat memastikan ini merupakan unsur penyebab-dan-pengaruh,” jelas penulis riset, dr. Brian A. Primack, seorang asisten guru besar pengobatan dan dokter anak di University of Pittsburgh School of Medicine. Alasan bahwa riset ini kemungkinan karena unsur penyebab-dan-pengaruh, adalah tayangan televisi yang menjadi faktor utama. Ini tidak mencakup orang-orang yang memiliki gejala depresi ketika riset dimulai.
Lebih dari 4.100 responden diberikan pertanyaan pada 1995 soal jumlah jam yang mereka habiskan untuk menonton tayangan televisi, kaset video, bermain game komputer atau mendengarkan radio. Mereka mengaku rata-rata setiap hari kurang lebih 5 sampai 7 jam termasuk 2 atau 3 jam nonton tayangan televisi.
Tujuh tahun kemudian, responden yang sudah berusia 22 tahun, 308 atau 7,4% anak muda mengalami gejala yang setingkat dengan depresi. Insiden dari gejala ini secara langsung berkaitan dengan jumlah jam nonton televisi dan media elektronik lainnya yang dilaporkan pada awal riset.
Kendati begitu, “Ketika kami mampu mengontrol banyak hal seperti status sosial ekonomi dan pendidikan, dalam analisa akhir, kami tak yakin ini akibat unsur penyebab-dan-efek,” jelas Primack.
Bisa berspekulasi soal alasan menonton televisi yang bisa memicu depresi, katanya. “Satu teori yakni Apakah Anda melihat banyak kejadian yang mengundang depresi pada tayangan-tayangan televisi dan kemungkinan adanya proses menginternalisasi kejadian-kejadian tersebut. Televisi banyak menayangkan berita-berita buruk dan tayangan berulangkali bisa memicu proses tersebut, tambah Primack.
Tayangan komersil TV juga bisa menimbulkan pengaruh. “Anda melihat kurang lebih 20.000 iklan televisi dalam satu tahun, dan proporsi besar dari tayangan itu mendatangkan fakta bahwa kehidupan tidaklah sempurna,” lebih lanjut periset ini katakan.
Tayangan televisi mungkin juga menggantikan aktivitas sosial, intelektual dan atletik yang bisa melindungi diri dari depresi. Menonton televisi pada tengah malam bisa menggangu jam tidur yang normal yang penting bagi pengembangan intelektual dan emosi.