Cari Blog Ini

Minggu, 11 Desember 2011

EQ (emotional quotient) dalam Kepemimpinan


Pada masa era reformasi sekarang ini mencari seorang pemimpin yang tepat memang tidak gampang. Hal tersebut disebabkan kebanyakan suplay tenaga profesional yang tersedia cenderung kurang siap untuk menjadi pemimpin yang matang. Kebanyakan para profesional kita, kalau pun punya pendidikan sangat tinggi sayangnya tidak didukung oleh pengalaman yang cukup. Atau banyak pengalaman namun kurang didukung oleh pendidikan dan wawasan yang luas. Ketimpangan-ketimpangan tersebut bagi seorang pemimpin perusahaan / organisasi memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap keharmonisan dan kinerja dari perusahaan / organisasi.
Banyak pemimpin instant hasil kolusi dan nepotisme di perusahaan-perusahaan Indonesia yang sangat minim kesiapan namun tetap saja dipakai demi kepentingan politik perusahaan. Akibatnya, seperti banyak terlihat di negara ini, banyak pemimpin yang malah membawa perusahaannya ke arah keruntuhan dan kebangkrutan dengan menelan banyak korban material bahkan jiwa. Meskipun demikian, tetap saja mereka memperkaya diri (tanpa merasa bersalah) dengan aset-aset perusahaan bahkan pinjaman bank yang seharusnya dipakai untuk menyehatkan perusahaan.
Fenomena apakah yang terjadi atas para pemimpin atau pun profesional kita? Apa yang kurang atau belum dimiliki oleh para pemimpin perusahaan atau pun organisasi kita sekarang ini? Apa rahasia keberhasilan para pemimpin yang sukses dalam arti sebenarnya?
Kecerdasan Emosional
Ada kalimat yang sangat menarik yang dikemukakan oleh Patricia Patton, seorang konsultan profesional sekaligus penulis buku, sebagai berikut:
It took a heart, soul and brains to lead a people...
Dari kalimat tersebut di atas terlihat dengan jelas bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki perasaan, keutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Dengan perkataan lain, "modal" yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tidak hanya intektualitas semata, namun harus didukung oleh kecerdasan emosional (emotional intelligence), komitmen pribadi dan integritas yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan. Seringkali kegagalan dialami karena secara emosional seorang pemimpin tidak mau atau tidak dapat memahami dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga keputusan yang diambil bukanlah a heartfelt decision, yang mempertimbangkan martabat manusia dan menguntungkan perusahaan, melainkan cenderung egois, self-centered yang berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok / golongannya sehingga akibatnya adalah seperti yang dialami oleh kebanyakan perusahaan di Indonesia yang high profile but low profit !
Patton sekali lagi mengemukakan pendapatnya bahwa di masa kini perusahaan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang punya kapasitas intelektual. Sebab, yang membuat sukses perusahaan atau organisasi adalah pemimpin yang bisa mendapatkan komitmen dari karyawan, konsumen serta manajemennya. Pemimpin seperti itu adalah mereka yang memahami karyawannya sepenuh hati dan sanggup memacu karyawannya memenuhi persaingan global. Singkatnya, pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional.
Tipe Kepemimpinan
Daniel Goleman, ahli di bidang EQ, melakukan penelitian tentang tipe-tipe kepemimpinan dan menemukan ada 6 (enam) tipe kepemimpinan. Penelitian itu membuktikan pengaruh dari masing-masing tipe terhadap iklim kerja perusahaan, kelompok, divisi serta prestasi keuangan perusahaan. Namun hasil penelitian itu juga menunjukkan, hasil kepemimpinan yang terbaik tidak dihasilkan dari satu macam tipe. Yang paling baik justru jika seorang pemimpin dapat mengkombinasikan beberapa tipe tersebut secara fleksibel dalam suatu waktu tertentu dan yang sesuai dengan bisnis yang sedang dijalankan
Memang, hanya sedikit jumlah pemimpin yang memiliki enam tipe tersebut dalam diri mereka. Pada umumnya hanya memiliki 2 (dua) atau beberapa saja. Penelitian yang dilakukan terhadap para pemimpin tersebut juga menghasilkan data, bahwa pemimpin yang paling berprestasi ternyata menilai diri mereka memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada umumnya mereka menilai bahwa dirinya hanya memiliki satu atau dua kemampuan kecerdasan emosional. Namun yang paling ironi adalah pemimpin yang payah justru menilai diri mereka secara "lebih" berlebihan dengan menganggap bahwa mereka punya 4 (empat) atau lebih kemampuan kecerdasan emosional.
Apa yang Harus Dilakukan?
Oleh karena itu, saran bagi anda yang saat ini menjadi pemimpin atau minimal memiliki bawahan cobalah untuk mempelajari seperti apa tipe kepemimpinan anda. Selain itu cobalah untuk membuka diri untuk mau mempelajari tipe-tipe kepemimpinan yang lain. Namun sebelum itu, Anda harus terlebih dahulu memahami kelebihan dan kekurangan anda sehubungan dengan gaya atau tipe kepemimpinan yang akan anda terapkan.
Jangan menyombongkan diri dahulu bahwa Anda seorang pemimpin yang baik. Bukalah mata hati anda lebar-lebar untuk mendengarkan ide, saran, keluhan atau pun pujian dari karyawan, konsumen dan pihak manajemen, sehingga apapun keputusan yang akan anda ambil dapat dipahami oleh semua pihak dan bersifat obyektif. Lakukan juga penilaian terhadap kinerja anda sendiri, apakah penilaian terhadap diri Anda itu benar-benar obyektif ? Untuk lebih mengetahui obyektivitasnya, bertanyalah pula pada anak buah yang bukan "anak emas" anda. Ok... (jp)

Membuka Dialog Diri


Kemajuan peradaban selalu menawarkan ruang dialog untuk mencegah terjadinya konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan konsep atau persepsi. Ruang dialog itu dimaksudkan sebagai upaya menjembatani  kompromi (kesepakatan sinergis) dari gap atau perbedaan. Ketika dialog menemui jalan buntu, maka kemungkinan yang paling dekat adalah gap komunikasi psikologis yang membikin kita tidak produktif atau lebih parah lagi konflik fisik seperti peristiwa di Aceh atau Papua di hari-hari ini. Kalau sudah terjadi konflik fisik, maka yang muncul adalah egoisme separatisme, bukan lagi kemaslahatan kedua belah pihak.

Belajar dari peristiwa yang terjadi di Aceh atau Papua, maka dalam skala paling kecil kita pun perlu membuka ruang dialog diri sebelum muncul konflik antara kita dengan diri kita sendiri. Konflik di dalam diri tidak saja menyebabkan separatisme psikologis akan tetapi berdampak pada kerusakan (penyakit) fisik. Juga, separatisme psikologis  membuat hubungan kita dengan orang lain mudah tergores oleh ketersinggungan egoisme sebagai refleksi ketidakharmonisan internal. Pepatah bijak bilang: “ Penderitaan adalah effect dari pikiran yang salah arah sebagai indikasi ketidakharmonisan yang terjadi di dalam diri seseorang”.

Media Dialog 


Media yang sudah lazim digunakan dalam dialog-diri adalah meditasi. Ada sekian cara yang dapat ditempuh  untuk menjalani meditasi mulai dari yang diajarkan agama, tradisi atau pengetahuan tertentu (the art) seperti seni bela diri, dll. Tetapi cara meditasi yang paling ampuh (powerful) adalah cara yang kita temukan sendiri dan bebas dari lalu-lalang aturan formalitas dan kode konformitas. Sendiri di sini memiliki konotasi ‘penjiwaan personal’. Dari praktek yang sudah umum, meditasi dapat didefinisikan sebagai upaya  menciptakan sarana menarik diri (baca: membebaskan-diri) dari hambatan yang membuat kita terasing dengan diri kita.

Tak pelak lagi, keterasingan demikian telah menyebabkan sensitivitas diri (self sensitivity) seseorang menjadi tumpul. Tidak dapat merasakan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan apa akibat yang dapat dimunculkan oleh pikiran, perasaan dan keyakinan tertentu. Tidak dapat mengidentifikasi bagaimana sesuatu terjadi dengan label masing-masing. Ketumpulan sensitivitas juga mengakibatkan orang tidak bisa mendengar apa yang disebut "inner critic" (baca: suara hati kecil). Orang lebih memedomani interpretasi permukaan yang salah akibat intuisi yang dimiliki tidak beroperasi.

Keterasingan dengan diri juga akan merenggut kenikmatan relaksasi mental padahal relaksasi mental adalah obat mujarab yang sudah dipraktekkan oleh sebagian orang berprestasi untuk mengundang inspirasi ketika kejumudan (Blokade Mental) melanda, sekaligus sebagai sarana mengundang ide kreatif / inovatif ketika kebosanan menyerbu. Sejarah mencatat, Edison adalah pakar praktisi relaksasi di mana dalam waktu 15 menit menjalani relaksasi, Edison sudah menemukan ide baru. Kecepatan Edison itu tidak bisa dipisahkan dari intensitas, kuantitas dan kualitas relaksasi sebagai latihan mental. Relaksasi mental juga digunakan Einstein untuk bervisualisasi sehingga dirinya sampai pada kesimpulan: "Fantasi atau imajinasi lebih bekerja di dalam dirinya ketimbang ilmu pengetahuan".

Relaksasi yang telah direnggut oleh kebiasaan hidup yang dinamakan oleh Covey dengan istilah "keracunan urgensitas" (the-must-do-activity) membuat diri kita bagaikan tong sampah dari masalah (problem). Di mana-mana timbul masalah.  Di rumah bermasalah, di kantor bermasalah, di jalan pun bermasalah. Akibat sekian banyak masalah yang menyiksa akhirnya kita merasakan kelelahan mental dan  tidak punya waktu lagi untuk bercengkrama dengan diri sendiri. Padahal seperti pepatah bilang, "Tak kenal maka tak sayang".

Keterasingan juga membuat kita kehilangan peluang untuk mengekspansi wilayah yang selama ini membatasi diri kita. Wilayah di sini lebih tepat dikatakan keyakinan yang dalam ungkapan lain disebut-sebut sebagai sumber arus (akar motif). Orang tidak dapat berbuat melebihi dari keyakinannya sebab perbuatan adalah aliran arus. Meditasi dapat berperan sebagai upaya menggali keyakinan yang telah terkubur di dalam lumpur yang dapat digunakan untuk mengubah diri.

Perlu  diakui bahwa semua orang ingin mengubah-diri menjadi lebih baik. Hari ini lebih baik dari kemarin dan esok hari seharusnya lebih baik dari hari ini. Namun mengapa akhirnya tidak semua orang berhasil menjadi lebih baik? Salah satu penyebabnya adalah karena program perubahan diri yang dirancang kurang mengakar pada sumber arus. Artinya bisa jadi perubahan yang terjadi hanya karena ikut-ikutan atau didorong oleh motif permukaan yang sifatnya hanya mengikuti trend sementara. Program perubahan diri  yang tidak (kurang) berakar pada motif pokok diibaratkan seperti orang malas yang tidak bergerak kalau tidak dipecut sehingga dirasakan berat sekali (beban). Bisa dibayangkan, sudah dirasakan beban ditambah lagi mengalami kegagalan. Akhirnya membuat orang malu atau putus dengan coretan agenda-diri yang tidak pernah berhasil.

Selain dapat menghilangkan keterasingan, meditasi juga merupakan sarana mengkukuhkan definisi-diri tentang "who we are".  Selama ini definisi yang kita buat bergantung pada aktivitas, pekerjaan, atau pada definisi  yang disodorkan oleh orang lain. Aktivitas, pekerjaan dan kondisi eksternal adalah variabel yang sarat dengan perubahan dan kalau hal demikian kita jadikan patokan untuk mendifinisikan who we are, maka konstruksi definisi-diri kita menjadi compang-camping tak berbentuk. Difinisi diri adalah ungkapan prinsip keyakinan (value), visi, dan tujuan yang terkadang perlu kita pisahkan (baca: selamatkan) dari hiruk-pikuk realitas temporer.

Dengan sekian alasan yang diuraikan di atas, maka meditasi seharusnya jangan kita gunakan hanya sebatas sarana untuk menghasilkan daftar dosa, kesalahan masa lalu, atau hukuman diri lainnya yang akan menyebabkan kita membuat kompensasi kebablasan dan mendorong pada  rasa takut untuk berbuat. Meditasi adalah ruang memperkuat keinginan untuk memperbaiki diri (re-programme) guna mendekatkan se-obyektif mungkin antara diri yang kita persepsikan (perceived self), diri yang ideal (ideal self) dan diri yang riil (the real self). Ketidakdekatkan ketiga diri tersebut telah membuat kita  mudah terperosok dalam lorong diri yang gelap - self-deceived (Carter McNamara:  1999).

Isi Dialog 


Tak ubahnya seperti dialog yang terjadi antara RI & GAM. Di dalam dialog-diri harus tercipta situasi tanya jawab tanpa konsekuensi pada judgment. Tanya jawab itulah yang sering dikenal dengan istilah self questioning, yaitu upaya  menyodorkan sejumlah pertanyaan kepada diri kita. Telah sejak lama diakui, pertanyaan  memiliki implikasi psikologis tertentu yang dapat digolongkan menjadi implikasi killer (pembunuh)  atau implikasi miracle (mukjizat). Perbedaan keduanya, implikasi killer diperoleh dari pertanyaan destructive yang mengarah pada jawaban tanda seru (self-defeating), irrational thinking model untuk mendatangkan masa lalu, atau IF - clause thinking dalam menyikapi masa depan.

Untuk memahami lebih jauh tentang pertanyaan yang mengandung implikasi killer adalah ketika orang bertanya kepada dirinya  (sadar / tidak sadar): "Kenapa saya dilahirkan tidak seberuntung orang lain?"  Kata "kenapa" di sini tidak memiliki jawaban yang rasional. Selain itu, "kenapa" malah menambah rasa putus asa, powerless, hopeless, dan dapat membunuh proses nalarisasi, ekplorasi-diri untuk menemukan keunggulan. Pendek kata, killer adalah pertanyaan yang jawabannya tidak mendorong kita untuk meraih solusi atau mendapatkan potret definisi-diri yang lebih baik dan lebih maju. Pertanyaan itu bisa berbentuk variatif yang secara tidak sadar telah kita jadikan acuan / pedoman hidup.

Lebih-lebih kalau pertanyaan itu diambil dari pernyataan / ungkapan orang lain yang berbau pengadilan negatif tentang diri kita. Rasanya seperti tulisan yang  terukir di atas batu. "The most damaging phrase in the language is 'It’s always been done that way' ”, kata Grace Hoper. Perkataan itu menggambarkan seseorang yang bertanya kepada dirinya / orang lain tentang sebuah maksud tertentu, lalu mendapat jawaban tanda seru: "Sudah pernah dilakukan dan hasilnya gagal!"

Implikasi miracle diperoleh dari pertanyaan constructive yang akan mendatangkan jawaban untuk menarik solusi.  Kalau orang sehabis mengalami kegagalan lalu bertanya kepada dirinya, "Tindakan apalagi yang lebih cerdas untuk dilakukan", maka pertanyaan itu memiliki bobot psikologis yang mendorong orang tersebut untuk menjalani eksplorasi dari apa yang sudah diketahui atau belum diketahui (evolusi-diri).  Umumnya, para pencipta prestasi besar dan kecil di alam raya ini tidak dapat dipisahkan dari upaya mengasah kemampuan mempertanyakan sesuatu  untuk menjalani langkah inovatif dan kreatif.

Meditasi yang kita jalani dengan mengisi tanya jawab tentang kita dan dengan kita (self questioning) selain dapat mencairkan kebekuan dan memperkokoh definisi, pun juga dapat mempertajam kontrol-diri di mana kita akan secara otomatis dididik oleh kebiasaan untuk mengganti (to substitute) muatan negatif menjadi positif, atau  melawan (to challenge) muatan negatif supaya kalah, atau membuat affirmasi (to affirm) muatan positif.
Sayangnya, kita dan sistem sosial yang kita masuki cenderung berorientasi pada jawaban. Kalau kita ditanya mengapa  kegagalan  menimpa,  maka hampir dapat dipastikan jawabannya adalah menyangkut ketersediaan modal / alat. Memang jawaban tersebut tidak berarti salah tetapi ada logika hidup yang hilang di sini. Ketersediaan modal (perangkat) adalah jawaban pencapaian (achievement) dari pertanyaan yang mendorong seseorang untuk meraihnya. Kalau pertanyaannya justru menutup, menghalangi, tanda seru, maka jawaban itulah yang akan menjadi pertanyaan dan membentuk lingkaran setan pertanyaan. Kalau kita renungkan, ternyata jawaban dari seluruh persolan hidup yang kita miliki sekarang ini adalah hasil dari pertanyaan yang kita ajukan di masa lalu. Selamat merenungkan.

10 Falsafah hidup orang jawa


Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.

Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.

1. Urip Iku Urup
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja.

7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

Merespon Emosi


Kita cenderung lebih menyadari emosi yang ada dalam diri kita ketika upaya kita dalam mencapai tujuan dihambat (marah, sedih, frustrasi, kecewa, dll). Atau sebaliknya ketika tujuan kita tercapai (senang, gembira). Emosi akan menjadi semakin jelas peranannya bila kita dapat mengingat beberapa hal berikut:

  1. Hampir seluruh suka dan duka dalam hidup ini berhubungan dengan emosi
  2. Seringkali perilaku manusia dihasilkan oleh kekuatan emosional (meskipun beberapa pandangan menyatakan banyak perilaku berdasarkan alasan logis dan objektif)
  3. Seringkali pertentangan antar pribadi dihasilkan karena penonjolan emosi (sombong, marah, cemburu, frustrasi dll)
  4. Pertemuan antar pribadi seringkali disebabkan emosi seperti belaskasih, sayang, perasaan tertarik dll.
Bila mengingat hal-hal tersebut maka sangatlah penting bagi individu untuk merespon emosi secara tepat. Dengan kata lain, emosi ibarat pisau bermata dua: cara seseorang mengatasi masalah secara emosional akan dapat memperkaya wawasan kehidupannya, namun juga dapat menyusahkan hidupnya sendiri. Bagaimana seseorang menyadari, menyampaikan dan mengintegrasikan emosi dapat dilihat dalam contoh berikut ini:
Andaikan anda berada dalam situasi sedang bertukar pikiran dengan seorang teman. Dalam pembicaraan tersebut timbul beberapa perbedaan pendapat yang ternyata sangat sulit untuk disamakan.  Makin lama suara Anda dan teman Anda makin meninggi dan tekanan darah meningkat. Anda mulai tegang, tindakan apa yang harus anda lakukan?
Dalam menghadapi situasi demikian, ada 2 pilihan tindakan anda dalam merespon emosi. Keduanya memiliki dampak yang sangat berbeda bagi diri anda. Cara merespon emosi dapat dibedakan menjadi "Respon yang Sehat" dan "Respon Tidak sehat". 

                                                                       

SEHAT

TIDAK SEHAT

1.    Sadarilah emosi. Anda berpaling sebentar dari pertengkaran mulut tersebut (mis: pergi keluar ruangan) dan memperhatikan baik-baik beraneka ragam emosional yang sedang anda rasakan. Lalu tanyakan pada diri anda: apa yang aku rasakan? Malu (karena teman anda lebih benar/baik), atau takut (ia lebih pandai dan semakin lama semakin marah), merasa lebih (karena anda merasa menang beberapa hal dari kawan anda dan seringkali ia mengakui)? Atau masih adakah emosi-emosi lainnya yang muncul?
2.    Akuilah emosi. Dengan sadar anda perhatikan emosi anda yang terjadi pada saat itu agar anda tahu emosi apakah itu. Perkirakan berapa kuat emosi itu. 
3.    Selidikilah emosi! Bila anda benar-benar ingin mengetahui banyak-banyak tentang diri sendiri, tanyakan mengapa kemarahan terjadi, bagaimana ia masuk pada diri anda dan dari mana asalnya. Telusurilah jejak asal emosi itu. Mungkin anda dapat menyingkap seluruh sangkut pautnya saat ini, namun anda mungkin akan menjumpai semacam rasa rendah diri yang belum pernah anda akui keberadaannya.
4.    Ungkapkanlah emosi Anda. Apa adanya saja. Tanpa ada interpretasi, tanpa penilaian. Katakan: Ayo kita berhenti sebentar, saya merasa terlalu tegang, jangan-jangan saya akan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan untuk dikatakan. Dalam hal ini penting sekali untuk tidak menuduh atau memberikan penilaian dalam memberitahukan perasaan ini kepada teman anda. Anda tahu pasti bukan kawan bicara anda yang salah. Tetapi dalam diri anda sendiri terdapat sesuatu hal yang kurang beres.
5.   Integrasikan emosi. Setelah mendengarkan emosi anda, setelah menanyakan dan mengungkapkan, sekarang biarkan akal sehat menilai apa yang sebaiknya anda lakukan. Katakan misalnya : mari kita mulai lagi, rupanya tadi saya terlampau ngotot, hingga tidak dapat mendengarkan dengan baik. Saya ingin mendengar alasanmu lagi. Atau: kamu tidak keberatan kalau kita akhiri saja perdebatan ini. Saat ini saya merasa mudah tersinggung untuk membicarakan hal yang serius.
1.   Jangan pedulikan reaksi emosional! Perasaan tak ada hubungan dengan perdebatan itu. Lebih baik katakan pada diri  sendiri;  saya tidak tegang sama sekali, kalau anda berkeringat, katakan bahwa suhu udara di ruangan panas. Kuburkan perasaan dalam-dalam dan jangan hiraukan.  Merasakan ketegangan emosi dalam sebuah diskusi ilmiah tidaklah pantas bagi anda seorang intelektual.
2.    Ingkari keberadaan emosi. Katakan pada diri sendiri dan orang lain; saya tidak marah, tidak! Emosi lebih mudah diingkari dengan jalan memusatkan perhatian pada jalan perdebatan saja. Jangan sampai perhatian dibelokkan oleh emosi! Minumlah obat, bila diperlukan. Karena biasanya akan tercetus sebagai penyakit maag, asam urat, tekanan darah tinggi, bahkan serangan jantung.
3.    Cari terus bahan-bahan penangkis. Orang dengan pemikiran sehebat anda, segera akan menyerang secara frontal. Saat ini adalah saat menang atau kalah. Anda perlu memperlambat arus kata-kata. Anda tidak boleh menjadi gagap, tetapi andapun tidak boleh berhenti untuk berbicara. Karena kawan anda  dapat mengemukakan bukti kuat dan anda akan kalah. Pusatkan pada perdebatan dan jangan kendur untuk terus mencekiknya.
4.   Jika ingin membabi buta dan menghendaki perpecahan, salahkan dia. Sebutkan beberapa cacat pribadi. Misalnya katakan: tak mungkin membicarakan hal ini secara tenang dengan dirimu. Kamu ini terlalu galak. Kamu tidak pernah mendengar pendapat orang lain (memukul rata seperti ini juga sangat mengena). Kamu pikir kamu ini Tuhan, apa!
5.    Karena tidak mengaku punya emosi, anda tidak perlu repot-repot mencoba menyelidiki reaksi-reaksi dari emosi. Meski demikian emosi-emosi yang ditekan memerlukan jalan keluar. Maka pergilah saja dengan perkataan gusar, lalu minum dua pil aspirin dan tetap ingat betapa bodohnya kawan anda tadi.
Dari kedua respon yang diatas dapat terlihat dengan jelas akibat-akibat yang akan timbul dalam kehidupan individu dari caranya merespon emosi. Sebagai orang yang dituntut untuk bersikap dewasa dan sehat tentunya anda sudah tahu respon mana yang akan anda pilih. Dan mulai hari ini anda dapat memulai untuk hidup lebih sehat dan bahagia dalam merespon emosi.

Menemukan Minat Diri


Menyimak perjalanan hidup seorang J.K Rowling yang ditulis oleh Lindsey Fraser (Gramedia Pustaka Utama: 2004) ternyata bukan kita saja yang mengalami nasib dimana pekerjaan yang kita jalankan hari ini masih jauh dari pekerjaan yang kita cita-citakan. Sebelum kini mendapatkan pekerjaan yang diimpikan sejak lama sebagai penulis, ternyata wanita yang karya tulisnya pernah dibilang dapat menggairahkan industri penerbitan lewat buku serial Harry Potter ini, tidak hanya merasa pernah "salah" memilih pekerjaan tetapi juga pernah merasa salah memilih fakultas dan itu tidak hanya satu kali.

Karena saking lamanya tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian, sambil menekuni pekerjaan sebagai sekretaris, guru, dan terpaksa mengambil sertifikat tambahan karena tuntutan kerja, hampir saja J.K Rowling memutuskan tidak pernah lagi mengingat pekerjaan idaman itu. "Ketika masuk usia 26 tahun, saat itulah aku malah berpikir aku tak punya peluang sama sekali menjadi penulis", begitulah yang pernah diakui.
Menyiasati omongan orang lain sekantor yang paling-paling akan mengatakan "sudahlah berhenti dari bermimpi", semua aktivitas yang berkaitan dengan mimpinya menjadi penulis dilakukan secara diam-diam di tempat yang kira-kira orang lain tidak menaruh curiga atau alasan untuk ngomong macam-macam, apalagi sampai menceritakan orang lain kalau di dalam dirinya ada mimpi menjadi penulis.
Ide untuk menampilkan Harry Potter sendiri diperoleh di dalam perjalanan naik kereta dan itu sebelum akhirnya menjadi buku, sudah kira-kira lima tahun di dalam pikirannya. Ketika buku selesai ditulis dan dikirim ke sebuah agen dan penerbit, keduanya menolak dan baru bisa diterima tahun 1997 lewat agen kedua Christopher Little. "Butuh waktu setahun untuk menemukan penerbit yang bersedia menerbitkannya".
Meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Coelho, seorang yang pernah menjabat sebagai tokoh spiritual UNESCO sekaligus masuk dalam satu dari 15 pengarang terbesar sepanjang sejarah dalam "The Alchemist", mungkin inilah yang disebut Legenda Pribadi yang bisa diartikan kira-kira sebuah suara cita-cita / keinginan di dalam diri yang terus bersuara sampai ketika kita menolak mendengarkan pun, suara itu tetap saja bersuara.
Semua orang sebenarnya memiliki suara-suara itu di dalam dirinya tetapi yang berbeda adalah bobot "kedengarannya" di telinga masing-masing orang. Mungkin tidak berbentuk definitif seperti ilmu matematika melainkan sebuah abstraksi yang menunjukkan di mana karta karun kita berada.
Dalam The Alchemis, Paulo Coelho menggambarkan seorang pemuda Andalusia, Spanyol, bernama Santiago yang ditunjukkan oleh mimpinya berkali-kali bahwa kalau dirinya pergi ke Kairo akan menemukan harta karun di bagian tertentu di Piramida sana. Meskipun orangtuanya sudah membuat kavling agar menjadi seorang pastur yang memahami kitab suci, tetapi Santiago tetap nekat pergi karena dipikirnya, menemukan harta karun lebih penting, dan di samping itu, supaya dia tidak menjadi pengembala domba yang seperti pengembala lain di kampungnya.
Apa yang didapat Santiago setelah sampai di Piramida benar-benar membuat dirinya menyesali untuk ke sekian kalinya mengapa dia mempercayai mimpi. Perjalanan dari Spanyol ke Kairo sambil membawa domba dengan berbagai macam peristiwa yang tidak mengenakkan, termasuk berurusan dengan serangan segerombolan penjahat yang mengambil tas dan menendang tubuhnya sampai terkapar di tanah hingga ada satu dari kawanan penjahat itu yang menghampirinya untuk mengeluarkan makian: " Kalau hanya bicara mimpi, akupun pernah bermimpi menemukan harta karun di sekitar gereja tua di Andalusia tempat di mana para pengembala bermalam. Tetapi aku bukan lelaki bodoh macam kau yang mempercayai mimpi !"
Untunglah sebelumnya Santiago sudah belajar bagaimana membaca petunjuk dari Sang Alkemis (seseorang yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan). Baliklah Santiago ke Spanyol menuju gereja tua yang diteriakkan penjahat itu yang tak lain adalah tempat dirinya dulu bermalam bersama domba berbantal buku tebal. Ternyata, tepat tidak jauh dari pohon Sangkriti yang dulu biasa dia pakai untuk menjemur jaketnya, di situlah harta karun yang bisa mengubah hidupnya berada.
Nah, pengalaman J.K Rowling dan kearifan Paulo Coelho meskipun sepintas terlalu jauh tetapi sebetulnya adalah kenyataan hidup yang terjadi di tempat yang paling dekat dengan kita di mana orang terkadang perlu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang paling dekat dengan dirinya dan di dalam dirinya. Menirukan pesan Alkemis kepada Santiago: "orang harus pergi supaya bisa kembali".
Proses Penyelarasan Diri

Tidak ada yang tahu pasti di mana dan ada apa di balik peristiwa yang menimpa karir kita pada hari ini . Tetapi belajar dari sejumlah pengalaman orang yang sudah berhasil keluar dari masalah ini, beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah:

1. Tetap tekun dan menjaga komitmen pada pekerjaan yang dihadapi

Tetap menjalani pekerjaan saat ini sepenuh hati (mindfulness) sambil mengendalikan mimpi profesi idaman agar konsentrasi kita tetap terfokus pada realita saat ini yang harus kita berdayakan dan upayakan sebaik mungkin. Kalau kita serius, produktif dan "cepat belajar", tidak mustahil kita semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetap lah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau pun profesi idaman itu dengan setia dan tekun, namun bisa mendatangkan kenikmatan – bukan malah menjadi beban.
3. Menjalin hubungan dengan komunitas
Tetaplah menjalin hubungan dengan orang / komunitas yang memiliki minat yang samat, atau berasal dari kalangan profesi idaman itu. Menjalin hubungan minimalnya akan membuat kita tidak lupa bunyi suara hati atau bisa jadi akan menjadi jalan bagi kita menemukan orang seperti yang ditemukan Santiago, sosok yang akan membimbing kita tentang bagaimana mengubah mimpi menjadi kenyataan.
4. Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup
Tetap lah menjaga fokus dan aliran pikiran (focus & flows) bahwa – meskipun terkadang takut atau ragu, cemas dan tidak yakin, tetaplah berfokus pada tujuan kita, minat dan profesi idaman. Pekerjaan yang saat ini ada di tangan adalah sasaran-perantara yang akan mengantarkan kita ke arah yang sebenarnya kita inginkan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup kita. Tanpa pekerjaan yang sekarang berada di tangan, maka kita tidak akan bisa mencapai tujuan hidup kita.
5. Memahami petunjuk hidup
Membaca dan memahami petunjuk di jalan yang diisyaratkan oleh setiap peristiwa di dalam dan di luar diri serta hidup kita, karena hanya dengan intuisi yang sensitif lah kita akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.
Kesimpulan
Apakah dengan membaca petunjuk itu sudah berarti kita memiliki garansi akan mencapai keselarasan hidup, antara karir, pekerjaan dengan minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itupun menjadi pilihan kita. "Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu bisa mem-visualkan fakta yang bisa kamu lakukan, maka kamu benar-banar bisa melakukannya selama kamu meyakininya 100 persen". Hari depan itu - kata Henry Ward Beecer - hanya memiliki dua pegangan. Kita bisa berpegang pada "keragu-raguan", dan bisa juga berpegang pada "keyakinan". Artinya, semua kembali pada kekuatan batin dan pilihan hidup kita. Semoga bermanfaat.