Cari Blog Ini

Selasa, 13 Desember 2011

Sebuah Multi Potensi : " Berkah atau Beban ".....???????


Antara Berkah & Beban

Dari namanya saja sudah bisa ditebak apa maksud istilah mutipotensi itu. Multipotensi adalah orang yang punya banyak kelebihan dasar. Kelebihan dasar ini bisa termasuk bakat, kemampuan unggulan umum atau spesifik, kecerdasan dominan, dan lain-lain.  Biasanya, orang yang multipotensi ini juga punya banyak keinginan dan ketertarikan terhadap berbagai bidang.

Konon, Iwan Fals kecil dulu termasuk anak yang punya multi potensi. Selain berbakat di seni tarik suara, Iwan juga berbakat di olahraga. Setelah menerjuni berbagai perlombaan olahraga dan seni, akhirnya ia memutuskan untuk menekuni seni. Olahraga ia jadikan sebagai sarana kesehatan tubuh saja. Kenapa? Menurut kesimpulannya, dunia olahraga menerapkan hukum kalah-menang. Ini diakui tidak klop dengan kepribadian dasarnya. "Olahraga itu keras", begitu katanya.

Jika anda termasuk orang yang punya multi potensi, ini bisa menjadi berkah dan bisa menjadi beban. Berkah maksudnya, anda mendapatkan advantages, manfaat, atau keuntungan dari sekian potensi ungggulan yang ada. Berkah maksudnya, anda bisa menjadi unggul di berbagai bidang atau area (all-round). Sedangkan beban adalah, anda  malah dibikin pusing oleh banyaknya kelebihan yang ada atau malah dibikin bingung dengan berbagai keinginan yang muncul

Kenapa bisa menjadi berkah dan kenapa bisa menjadi beban? Jawabnya sederhana. Potensi itu bukan penjamin keberhasilan atau prestasi. Potensi itu adalah bahan dasar. Supaya bahan dasar itu menjadi barang-jadi, syaratnya harus diolah. Supaya potensi itu menjadi prestasi, syaratnya adalah aktualisasi (menemukan, menggunakan, dan mengaktualkan).

Peranan aktualisasi ini jauh lebih besar dibanding dengan potensi yang kita miliki. Jadi, potensi ditambah aktualisasi sama dengan prestasi. Ini rumus prinsipilnya. Karena itu, ada pelajaran dari temuan para pakar di Exter University, tahun 1998. Setelah mereka melakukan studi terhadap orang-orang seperti Mozart, Edison, Picasco, dan lain-lain, maka kesimpulannya adalah: "marilah kita menghapus mitos".

Mitos yang diyakini oleh kebanyakan  kita adalah, orang-orang hebat itu menjadi hebat karena "diistimewakan Tuhan" dengan bakat-bakatnya. Padahal itu tidak benar. Memang benar, mereka menjadi hebat karena bakatnya tetapi bukan hanya bakat itu yang membuat mereka menjadi hebat. Selain bakat, mereka menjadi hebat karena "practicing", mempraktekkan bakatnya. Konon, Mozart sendiri sebelum akhirnya dinobatkan sebagai maestro, ia mempraktekkan sesuatu selama kurang lebih enam belas tahun.


Problem Umum

Dari banyak catatan yang saya baca, orang yang punya potensi multi ini juga menghadapi banyak problem. Biasalah, namanya juga orang hidup. Kalau kita ditakdirkan tidak punya potensi multi, ini ada masalah juga. Tapi kalau ditakdirkan muti potensi juga, inipun ada masalahnya. Problem umum ini perlu kita ketahui, bukan untuk dipersoalankan, tetapi untuk diantisipasi atau diselesaikan.

Nah, beberapa problem umum yang dihadapi orang berpotensi multi itu antara lain:

Pertama, kesulitan mengambil keputusan dalam memilih  bidang studi, karir atau bidang usaha. Karena kita tidak mungkin melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, maka tugas kita adalah memilih salah satu berdasarkan prioritas. Jika kita tidak bisa memilih salah satu atau sebagian, ini akan menimbulkan beban.

Seorang pelajar yang merasa tahu banyak tentang hal yang banyak akan berpotensi mengalami kesulitan memilih studi lanjutan atau bidang studi tertentu yang ingin ditekuninya sampai mendalam. Seorang karyawan yang punya banyak kebisaan akan berpotensi mengalami kesulitan dalam menentukan profesi yang akan ditekuninya. Begitu juga dengan seorang yang ingin memulai menekuni usaha tertentu. Jika kita merasa banyak cocoknya dengan bidang yang banyak, ini juga kerap memunculkan kesulitan sendiri.

Kedua, incomplete tasks (kesulitan menangani tugas sampai tuntas). Jika kita merasa banyak tahu, kecenderungan kita adalah menangani banyak hal. Jika kita sudah menangani banyak hal, akibat-potensialnya akan ada dua. Kalau itu ternyata sanggup kita selesaikan semua, berarti kita mendapat berkah dari potensi multi yang kita miliki. Tapi bila tidak, berarti kita malah mendapatkan beban.

Sebagian orang yang punya potensi multi kerap menghadapi masalah ini atau yang disebut "overschedule". Ingin menangani banyak masalah, banyak pekerjaan, banyak keinginan, tetapi ujung-ujungnya tidak ada yang tuntas sampai sempurna (complete). Kalau hanya satu dua, mungkin tidak terlalu membebani. Tapi kalau sudah buanyak, tentu ini beban.

Dalam teori pekerjaan, ada dua istilah yang perlu kita ingat, yaitu to finish dan to complete. To finish artinya kita menggarap pekerjaan itu sampai ke tingkat "yang penting selesailah". Sedangkan to complete artinya kita menggarap pekerjaan itu sampai ke tingkat tuntas dan menyenangkan.

Ketiga, stres kerja. Seperti yang sudah sering kita bahas, stres kerja adalah keadaan di mana orang merasa tertekan akibat ketidaksepadanan antara kemampuan dan pekerjaaan, tugas, agenda, atau program. Stres kerja ini bisa muncul dari dalam (diri kita) dan dari luar (orang lain, manajemen, atasan, dst).

Bentuk stressor yang muncul dari dalam itu misalnya kita memberanikan diri (tanpa perhitungan) untuk menangani banyak hal, namun kapasitas atau kemampuan kita belum sampai. Mau tidak mau akan menimbulkan stres. Stres bisa menghambat kreativitas, produktivitas, dan motivasi. Istilah dalam teori manajemennya, stres bisa muncul karena banyaknya distraksi atau keracunan desakan (urgent). Kita merasa semuanya penting dan mendesak padahal kemampuan kita belum sampai.

Keempat, gaya hidup mengkhayal (fantasi). Ada perbedaan antara orang yang punya visi (sasaran hidup yang jelas) dan orang yang hanya punya fantasi (khayalan belaka). Dimana letak perbedaannya? Salah satunya adalah apa yang dilakukan sehari-harinya. Orang yang punya visi menjalankan program, agenda, aktivitas berbasis harian untuk merealisasikan visinya. Dia melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk visinya.

Ini berbeda dengan orang yang hanya punya fantasi. Orang yang punya fantasi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan keinginannya. Atau melakukan banyak aktivitas yang tidak "match-link" dengan tujuannya atau visinya. Meminjam istilahnya Thomas Alva Edison, orang yang punya fantasi ini biasanya hanya punya kesibukan tetapi tidak punya tujuan yang jelas.

Artinya, multipotensiyang kita miliki akan menggeret kita ke budaya hidup mengkhayal (fantasi) apabila kita gagal mengarahkannya dengan visi, tujuan, target atau sasaran yang jelas dan punya hubungan yang jelas dengan aktivitas harian. Kita tergoda untuk menambah keinginan dan kesibukan tapi kejelasannya dipertanyakan.

Kelima, terlena oleh perasaan "merasa mampu". Dalam prakteknya, ada perbedaan yang signifikan antara merasa mampu dan memiliki kemampuan (capable). Memiliki kemampuan, jelas sangat positif. Tapi, merasa mampu, belum tentu. Kalau kita merasa mampu di banyak hal, belum tentu kita memiliki kemampuan di situ. Jika ternyata kita tidak memiliki kemampuan, ini malah negatif buat kita.

Merasa mampu yang demikian itu biasanya lahir dari pengetahuan atau pemahaman yang masih di permukaan (superfisial). Semua persoalan atau semua bidang, jika kita lihat dari permukaannya saja, pasti akan terlihat itu mudah, itu gampang, atau itu bisa dikerjakan. Merasa mampu dibutuhkan apabila itu kita jadikan dorongan untuk memiliki kemampuan. Tapi jika itu hanya kita jadikan sebatas isi perasaan, ini malah membahayakan.

Dengan kata lain, jangan sampai kita hanya puas dengan "merasa mampu" dengan potensi multi yang kita miliki. Ini malah membahayakan. Orang menyebutnya dengan istilah seperti "sok tahu", "sok pinter", "nggak tahu diri", dan lain-lain. Supaya ini tidak terjadi, berarti kita perlu merealisasikan isi perasaan demikian menjadi sebuah bentuk kemampuan yang riil.


Multipotensialitas

Dalam literatur pengembangan karir dikenal istilah "Multipotentiality". Menurut Frederickson & Rothney (1972), multi-potensialitas adalah kemampuan seseorang dalam menyeleksi dan mengembangan berbagai macam opsi karir karena yang bersangkutan punya berbagai ketertarikan, bakat dasar atau kemampuan. Jika kemampuan ini terus diperbaiki, maka berbagai potensi yang kita miliki benar-benar akan menjadi berkah buat kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kemampuan itu bisa dimiliki? Secara garis besar bisa dikatakan bahwa naluri kita sebetulnya sudah mengajarkan. Biasanya ini melalui masalah, kompleksitas atau persoalan yang kita hadapi.  Jika kita benar-benar "aware", kita bisa tahu apa yang diajarkan oleh naluri kita.

Sebagai tambahan, ada beberapa pilihan yang mungkin penting untuk kita lakukan. Pilihan ini antara lain:

Pertama,  tentukan sasaran utama dan sasaran pendukung. Ini mencontoh dari Iwan Fals dan lain-lain. Dia punya sasaran utama, yaitu musik. Olahraga ia jadikan sasaran pendukung. Kalau anda merasa hebat di berbagai bidang, tentukan salah satu yang paling hebat dan yang paling punya prospek bagus, lalu jadikan yang lain-lain sebagai pendukung.

Ini hanya sekedar teknik atau metode agar pikiran ini bisa bekerja lebih fokus, tahu membedakan mana yang paling utama, utama dan yang penting (priority and important). Bagaimana kalau pikiran kita sudah terlatik memfokus pada beberapa hal dan nyatanya semuanya bagus atau tidak mengecewakan? Ini berkah. Jalani saja semuanya. Banyak ‘kan orang yang prestasinya bagus di banyak bidang?

Kedua, tentukan sasaran bertahap. Ini juga sekedar metode. Normalnya, tidak mungkin manusia itu bisa mendalami beberapa hal atau menangani banyak hal secara simultan dalam satu waktu, meski punya banyak potensi. Cara menyiasatinya adalah dengan memiliki sasaran yang bertahap atau bertangga. Rumus yang bisa kita pakai adalah:

§         Be more, jadilah yang lebih bagus, milikilah yang lebih banyak, atau tingkatkan dan kembangkan ke yang lebih tinggi.

§         Learn more, pelajari banyak hal yang relevan dan perbanyaklah belajar, entah itu teori dan praktek

§         Do more, tangani hal yang lebih banyak, lakukan yang lebih banyak, kumpulkan prestasi yang lebih banyak lagi.

Ketiga, kembangkan kemampuan untuk bisa menjadi "ordered and flexibility". Ini saya pinjam dari teorinya Musashi dalam menghadapi berbagai pertempuran. Ordered artinya kita tetap punya lankah yang teratur, ingat sasaran utama dan ingat sasaran pendukung, tahu mana yang utama dan mana yang penting. Sedangkan flexibility artinya kita tetap bisa toleransi terhadap berbagai hal yang di luar program kita.

Kita perlu ingat bahwa selain sebagai makhluk individual yang harus memikirkan diri sendiri, kita pun makhluk sosial yang harus melihat kiri dan kanan. Terlalu sosial tidak bagus. Tetapi kalau terlalu individual juga tidak bagus. Pendeknya, kita perlu belajar menjadi orang yang "ordered" dan orang yang "flexible"

Keempat, jaga hubungan-baik. Kunci menjaga hubungan adalah menaati "agreement" atau kesepakatan, entah itu tertulis atau tidak. Ini terkait dengan problem umum di atas. Beberapa tehnik yang bisa kita lakukan adalah:

§         Jangan main-main / asal-asalan. Jika anda sudah sepakat mengerjakan A, kerjakan seoptimal mungkin. Jangan tergoda untuk main-main atau asal-asalan.
§         Ingatlah apa yang anda sepakati. Ini terkait dengan overschedule di atas. Kalau perlu, catatlah.
§         Buatlah sejelas mungkin. Supaya tidak terkena distraksi atau racun desakan, buatlah kesepakatan itu sejelas mungkin, misalnya kapan waktunya, dimana tempatnya dan lain-lain.
§         Lihatlah dengan siapa anda bersepakat. Tidak semua orang itu bagus dan tidak semua orang itu tidak bagus. Ada orang yang bagus untuk diajak bersepakat dan ada yang tidak. Jika anda membikin kesepakatan dengan orang yang biasa mengingkari kesepakatan, ya mau tidak mau anda juga akan kena getahnya.
§         Renegoisasi. Jika kita tidak bisa atau belum bisa memenuhi kesepakatan yang telah kita bikin, buatlah kesepakatan kedua.

Kelima, lawanlah kerakusan !!. Dalam teori pengembangan atlit, rakus ini pengertiannya agak beda dengan yang jamak kita tahu. Rakus di situ artinya adalah seorang atlit yang ingin mendalami banyak bidang olahrga sekaligus. Atau juga seorang atlit yang ingin langsung mendalami tehnik tertentu tanpa proses. Biasanya, rakus ini malah menghambat kemajuan.

Untuk mengantisipasi itu, dibuatlah metode manajemen pikiran yang formulasinya adalah:

§         Vision: punya visi, punya sasaran yang jelas, dan jelas-jelas diperjuangkan
§         Belief: punya keyakinan yang tinggi
§         Method: menempuh metode pengembangan yang rasional, bukan nafsu.

MENGGALI SUMBER MOTIVASI


Intrinsik & Ekstrinsik
Teori motivasi yang sudah lazim dipakai menjelaskan bahwa sumber motivasi itu sedikitnya bisa digolongkan menjadi dua, yaitu sumber motivasi dari dalam diri (intrinsik) dan sumber motivasi dari luar (ekstrinsik). Termasuk sumber dari dalam, misalnya saja kebutuhan kita untuk menemukan makanan, mendapatkan kesehatan, mendapatkan keamanan, mendapatkan kehormatan, meraih prestasi di bidang kita, dan seterusnya.
Sedangkan yang termasuk sumber motivasi dari luar, misalnya saja kondisi kerja yang mendukung, gaji yang jumlahnya sesuai dengan keinginan atau tuntutan kita, perlakukan yang baik dari pihak lain, dan seterusnya. Dari praktek hidup seringkali kita temukan bahwa motivasi yang bersumber dari luar ini sifatnya tidak otomatik dan tidak mutlak. Di atas kertas putih memang bisa dikatakan bahwa kenaikan gaji bisa menambah motivasi dan bisa menambah kreativitas tetapi prakteknya tidak berlaku untuk semua orang atau tidak mutlak bisa menaikkan motivasi semua orang.
Prakteknya seringkali membuktikan bahwa kenaikan gaji hanya akan memotivasi orang yang sudah bisa memotivasi dirinya. Adapun bagi orang yang belum bisa memotivitas dirinya atau menolak memotivasi dirinya (malas-malasan, setengah-setengah, dan semacamnya), kenaikan gaji seringkali terbukti tidak bisa membuat mereka termotivasi. Atau paling banternya hanya menambah motivasi untuk jangka waktu yang sangat pendek.
Bahkan kalau kita rujukkan pada hasil studi Teresa Amabile, profesor dari Harvard Business School (The 6 Myths of creativity, Gruner + Jahr USA Publishing, 2004), kenaikan gaji malah menjadi semacam "fithan", masalah atau ancaman terhadap motivasi dan kreativitas bagi orang yang menolak memotivasi dirinya. Teresa mengatakan bahwa karyawan yang motivasi dan kreativitasnya tergantung pada kenaikan gaji semata justru akan menjadikan kemalasan sebagai jurus untuk mendapatkan kenaikan gaji berikutnya.
Walhasil, memang perlu kita akui bahwa gaji yang rendah menurut ukuran yang berlaku umum, kondisi kerja yang tidak kondusif menurut rasio umum atau perlakuan organisasi yang tidak fair menurut norma umum, bisa menjadi demotivator. Tetapi hal ini tidak punya pengertian bahwa ketika gaji kita naik, kondisi kerja Ok atau perlakuan yang kita terima OK dari pihak lain lantas membuat kita secara otomatik menjadi orang yang kreatif dan ‘motivatif’.
Kita bisa memilih menjadi orang kreatif dan motivatif dengan alasan karena kita kekurangan fasilitas, karena gaji kita tidak cukup menurut ukuran kita, karena kita sedang dilanda krisis perlakuan baik dari orang lain ATAU bisa pula kita memilih menjadi orang kreatif dan motivatif dengan alasan karena kita sedang dikelilingi fasilitas kerja yang berlimpah, gaji kita lebih menurut ukuran kita, dan karena kita sedang mendapatakan treatment yang bagus dari pihak lain. Prakteknya membuktikan, "We are the law of ourselves."
Sumber Alamiyah: motivator & demotivator
Cukupkah pemahaman kita tentang sumber motivasi itu hanya sebatas pada pengertian-pengertian yang seperti penjelasan di atas? Kalau kita mencoba menelaah praktek hidup lebih dalam, ternyata bisa kita temukan bahwa sumber motivasi itu jumlahnya tak terbatas dan terhingga. Seluruh aktivitas perasaan kita (feeling and mood) dalam meresponi apa yang terjadi di dalam diri dan apa yang menimpa diri kita dari luar bisa kita gunakan sebagai motivator, termasuk yang sering kita cap dengan sebutan hal-hal negatif atau tak berguna atau ancaman motivasi (demotivator)
Berikut ini adalah sebagian contoh dari hal-hal yang sering kita anggap negatif tetapi bisa kita olah sebagai sumber motivasi yang gratis dan bisa kita gali seluas-luasnya, sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya:
Pertama, kekesalan. Terlepas dari perbedaan kadar dan alasan, semua orang yang hidup di dunia ini pernah kesal: kesal kepada diri sendiri, kesal kepada orang lain, kesal kepada keadaan, bahkan kesal kepada Tuhan. Persoalan yang kita hadapi dalam praktek hidup bukan masalah pernah kesal atau tidak pernah, melainkan akan kita gunakan untuk apakah kekesalan yang menggelora di dada kita?
Kekesalan bisa kita jadikan motivator untuk maju tetapi bisa pula kita jadikan demotivator untuk maju, tergantung apa yang kita pilih. Anthony Robbins yang saat ini dikenal Motivator International papan atas mengakui bahwa dirinya menjadikan kekesalan sebagai motivator untuk maju. Karena ia kesal dengan posisi karirnya yang berada di level bawah, maka kekesalan itu ia olah menjadi energi yang mendorong dirinya untuk naik.
Kedua, kegagalan. Semua manusia yang berusaha di dunia ini pastilah pernah gagal. Kegagalan dalam usaha bukanlah pilihan (choice), melainkan konsekuensi yang tidak bisa dipilih (not free to choose). Andaikan boleh memilih, tentulah tak ada satu pun manusia di dunia ini yang memilih kegagalan. Semua orang pastilah akan memilih keberhasilan.
Meskipun semua orang pernah menghadapi kegagalan tetapi yang berbeda adalah bagaimana orang itu menggunakan energi kegagalan. Apakah kita akan menggunakan kegagalan usaha kita sebagai motivator untuk mencapai keberhasilan ataukah kita akan menggunakan kegagalan kita sebagai demotivator? Semua akan kembali kepada pilihan kita. Robert Kiyosaki menyimpulkan bahwa kegagalan itu akan menjadi penghancur (demotivator, destroyer) bagi orang kalah (losers) tetapi akan menjadi inspirasi maju bagi para pemenang (winners)
Meminjam istilah yang pernah digunkan oleh Jhon C. Maxwell, di sana ada yang disebut Kegagalan Maju (failing forward) dan di sana ada pula yang disebut Kegagalan Mundur (failing backward). Menurutnya, Kegagalan Maju adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah dipukul mundur, kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan kemampuan untuk melangkah menuju arah yang lebih bagus. J.M. Barrie menyimpulkan: "Selama lebih dari 30 tahun saya memimpin, saya sampai pada kesimpulan bahwa yang paling penting di sini adalah memiliki kemampuan yang saya sebut "kegagalan maju".
Ketiga, hinaan, celaan atau cemoohan orang lain atas kita. Terlepas dari perbedaan bentuk, jenis, dan kadar, sebetulnya semua orang di dunia ini pernah dihina, dilecehkan, dipandang rendah, diperlakukan secara tidak enak oleh orang lain. Semua sepakat bahwa diotak-atik dengan menggunakan teori apapun, yang namanya dihina atau dilecehkan tentulah merupakan sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Masalah yang kita hadapi dalam praktek hidup (selain masalah yang sudah kita rasakan) adalah bagaimana kita menggunakan semua itu. Hinaan bisa kita jadikan sebagai motivator dan bisa pula kita jadikan sebagai demotivator, tergantung bentuk kegunaan yang kita pilih. Tak sedikit para peraih prestasi tinggi di bidangnya di sekitar kita yang mendapatkan dorongan maju (motivasi) dari hinaan orang lain di sekitarnya yang kemudian mengantarkan mereka pada satu titik pembuktian-diri positif. Albert Einstein mengakui bahwa semangat dari dirinya yang agung kerapkali mendapatkan perlawanan dari orang lain yang punya semangat biasa-biasa.
Karena sesungguhnya yang menentukan kegunaan itu kita, maka Les Brown berpesan: "Jangan biarkan opini negatif orang lain tentang dirimu menjadi kenyataan di dalam dirimu." Dihina orang lain tidak ‘capable’ kalau kita iyakan (kita gunakan sebagai demotivator) akan menjadi kenyataan di dalam diri kita tetapi kalau kita tolak (kita jadikan motivator untuk menjadi capable) tentu ini setidaknya akan mengantarkan kita menjadi capable, meskipun tidak semudah orang membalik tangan. Eleanoor Rosevelt berkesimpulan: "Tidak ada orang yang sanggup membuat anda down tanpa izin dari anda."
Gampangnya ngomong, semua yang diciptakan Tuhan atau semua yang diizinkan Tuhan untuk ada dan untuk terjadi di dalam diri kita dan di dunia ini, memiliki kegunaan, dari (katakanlah) mulai ketakutan, kekurangan, kebingungan, kemalangan, dan seterusnya. Kitalah yang diberi pilihan (tawaran) untuk memilih kegunaan itu. Bisa kita gunakan sebagai motivator (kegunaan positif) dan bisa pula kita gunakan sebagai demotivator (kegunaan negatif). Memilih kegunaan positif akan mengantarkan kita menjadi orang yang semakin positif. Memilih kegunaan negatif akan mengantarkan kita menjadi orang yang semakin negatif.
Pembelajaran
Apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa menggunakan ledakan emosi negatif yang selama ini kita anggap barang tak berguna itu menjadi berguna, menjadi motivator atau setidak-tidaknya tidak sampai membuat kita menjadi orang yang semakin / bertambah negatif akibat tertimpa oleh hal-hal negatif (hal-hal yang tidak kita inginkan)? Sebagai pembelajaran, mungkin kita bisa melakukan pilihan berikut:
1. Menyadari
Menyadari atau kesadaran-diri (self-awareness) adalah kemampuan kita untuk mendeteksi, menyadari, merasakan, dan mengontrol apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita unek-unek-an serta kemampuan kita untuk memahami bagaimana semua itu terjadi dan apa yang menyebabkannya. Memiliki kesadaran-diri seperti ini akan membuat kita punya pilihan hidup (choice), bisa mengambil keputusan menurut pilihan kita dari dalam (from the inside-out), atau responsif (bukan sekedar reaktif).
Seperti yang kita alami dalam praktek hidup sehari-hari, kekesalan itu bisa kita pilih sebagai sumber motivator dan bisa pula kita pilih sebagai sember demotivator. Cuma saja, untuk bisa memilih sebagai motivator ini dibutuhkan kesadaran-diri, kontrol-diri, atau penguasaan-diri serta kekebasan memilih (free to choose). Hilangnya kesadaran-diri ini akan membuat kita menempati posisi sebagai korban kekesalan, dan bukan sebagai pihak yang bisa menggunakan kekesalan. Kita mudah lupa bahwa kekesalan itu selain bisa kita gunakan sebagai motivator juga bisa menjadi demotivator.
2. Menggunakan
Setelah kita memiliki "kebebasan memilih" dalam menggunakan apa yang terjadi dan apa yang menimpa kita, maka tahapan berikutnya adalah menggunakan energinya untuk mendukung keinginan kita. Kekesalan, kekecewaan, ketakutan, kekurangan atau kejengkelan tidak secara otomatik menjadi sumber motivator hanya karena kita tahu. Ia akan menjadi motivator kalau kita gunakan (apply) untuk memotivasi diri kita melalui saluran aktivitas yang jelas dan tujuan (sasaran) yang jelas.
Karena itu, akan lebih mudah buat kita dalam mengolah ledakan emosi agar menjadi sumber motivasi kalau kita memiliki tujuan hidup yang jelas dan jelas-jelas kita perjuangkan. Ibarat menembak, jika sasaran yang akan kita bidik itu jelas (spesifik, measureable, attainable), tentulah akan lebih mudah kita mengalihkan energi dari yang semula akan mencelakakan kita ke yang mendukung kita.
3. Mengawasi
Dari praktek hidup sehari-hari kita diajarkan bahwa yang terkadang membuat kita tidak sanggup menggunakan berbagai ledakan emosi sebagai sumber motivasi itu bukan saja karena kita tidak tahu semata, melainkan karena kita lupa (losing control). Karena itu, pengawasan aktivitas batin kita tetap diperlukan. Lupa hanya sebentar lalu kita menarik diri untuk ingat, mungkin tak ada masalah tetapi kalau kita lupa dalam kurun waktu yang panjang apalagi selamanya, tentulah ini membahayakan buat kita. Selamat mencoba.

Memahami Cara Mewujudkan Suatu Gagasan


Setiap individu pasti pernah memiliki gagasan atau ide. Bahkan dalam kenyataan banyak ditemui bahwa satu orang mungkin bisa memiliki puluhan gagasan sekaligus.  Tanpa memandang tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi sebuah gagasaan akan muncul manakah seseorang dihadapkan pada suatu tantangan atau berada dalam suatu lingkungan baru. Namun dari sekian banyak orang yang memiliki gagasan, hanya sedikit saja yang mampu mewujudkan gagasan tersebut menjadi suatu hasil karya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungannya.  

Pertanyaannya adalah mengapa tidak semua orang bisa mewujudkan gagasan atau ide tersebut menjadi kenyataan? Tahapan apa saja yang harus dilalui agar gagasan yang cemerlang dapat terwujudkan dan berguna bagi kesejahteraan individu? Artikel singkat ini ditulis untuk mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Menjadi Awal


Gagasan adalah bukan 'sesuatu' tetapi ia menjadi awalnya. Mirip angka nol yang menjadi awal seluruh hitungan tetapi ia  tidak  memiliki makna hitungan apapun kecuali jika ia berasosiasi dengan angka lain. Begitu juga dengan gagasan anda. Tanpa diasosiasikan dengan perangkat lain,  gagasan akan tetap selamanya menjadi gagasan. Maka tugas anda yang paling utama adalah menjadi pejuang gagasan anda, bukan sekedar  memilikinya.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah gagasan ditempatkan sebanding dengan sesuatu hingga akhirnya mengakibatkan gagasan tersebut menemui ajal sebelum waktunya. Anda merasa cukup berhenti dengan memilikinya tanpa perjuangan untuk mewujudkannya atau memilih untuk membunuhnya  sebelum dikeluarkan judgment lingkungan bahwa gagasan anda tidak akan hidup.  Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka sembunyikan gagasan anda dari siapapun sebelum anda menemukan cara bagaimana gagasan tersebut bisa direalisasikan supaya tidak langsung menjadi santapan virus lingkungan.  

Tahapan


Bagian dari perjuangan terhadap gagasan adalah memahami bagaimana ia bekerja sesuai dengan hukum alamnya sehingga anda menjadi sadar (aware) terhadap sesuatu yang terjadi pada diri anda selama menjalani proses. Tanpa pemahaman yang cukup, maka akan mengakibatkan bongkar pasang gagasan atau cepat tergoda oleh gangguan eksternal yang menggerogoti kegigihan anda memperjuangkan gagasan tersebut. Berikut adalah tahapan proses yang ditempuh gagasan menuju realisasi fisiknya.

Tindakan


Jika gagasan masih berupa angka nol, bukan sesuatu, maka tindakan adalah angka satu yang berarti sesuatu. Temukan format tindakan tertentu yang menjadi padanan fisik gagasan anda atau yang memperdekat ke arah realisasi riilnya.  Seluruh tindakan anda memiliki fungsi bagi gagasan anda meskipun tidak semuanya berhasil. Seperti orang yang sedang memecahkan batu dengan jumlah pukulan yang tidak terhitung.  Jika anda mengatakan batu tersebut pecah oleh pukulannya yang terakhir,  jelas anda salah. Batu tidak pecah oleh hanya satu pukulan, tetapi beberapa pukulan di mana masing-masing pukulan memiliki maknanya sendiri.

Tindakan memiliki daya tarik yang berfungsi untuk mengangkut gagasan anda menuju padanan fisiknya ketika tindakan tersebut sudah anda pahami sebagai habit dalam bentuk aktifitas atau kesibukan. Persoalannya adalah bagaimana anda menciptakan tindakan yang bernilai tinggi bagi gagasan anda sebab terkadang tidak semua tindakan punya relevansi dengan realisasi gagasan, meskipun tidak berarti bahwa tindakan tersebut sia-sia. Dalam hal ini masalahnya lebih pada suatu tindakan yang efektivitas dan efisiensi.

Agar tidak kehilangan relevansi, maka janganlah menjadikan tindakan atau aktivitas atau kesibukan sebagai tujuan, sebaliknya letakkan semua pada perspektif masing-masing secara benar.  Tujuan adalah hasil sedangkan tindakan merupakan media untuk mencapainya.Katakanlah jika anda sudah memiliki tujuan, target atau tujuan mikro, dan tindakan, maka pertanyaannya, sejauhmana masing-masing komponen tersebut berfungsi mengarah pada titik fokus anda. Atau lebih singkatnya, sejauhmana aktivititas anda mampu menghasilkan asset bagi hidup anda?

Tidak cukup dengan menjaga relevansinya saja,  tindakan pun perlu bahan bakar yang dihasilkan dari kematangan spektrum emosi. Kuncinya terdapat pada penggunaan pilihan positif  bagi keyakinan, pikiran, mental, sikap, atau perasaan anda. Dengan pilihan tersebut anda mampu mengatasi tantangan atau godaan yang mayoritasnya berupa keragu-raguan, pesimisme, rasa tidak berdaya atau The "I cannot attitude", malas, pengecut, atau kekerdilan harga diri yang seringkali muncul di tengah perjuangan hidup anda.

Interaksi


Jika tindakan berupa angka satu, maka interaksi adalah angka dua. Maksudnya, anda harus menemukan pasangan dari kelompok yang anda pilih untuk merealisasikan gagasan anda.  Alasannya sangat jelas, bahwa pertama, anda tidak bisa menjadi hebat di atas gagasan anda dengan seorang diri, dan kedua, semua yang ingin anda wujudkan dengan gagasan tersebut berada di tangan orang lain. Itulah betapa penting peranan interaksi.

Riset international membuktikan bahwa keberhasilan suatu gagasan seseorang ditentukan oleh keahlian tekhnis dan keahlian bagaiman anda menciptakan interaksi. Keahlian tekhnis memegang peranan lima belas sampai dua puluh lima persen dan sisanya interaksi. Tanpa interaksi  maka mustahil diciptakan kreasi atau prestasi dari gagasan anda. Oleh karena itu keberhasilan suatu gagasan tidak bisa didasarkan dari sudut merah-putih, atau benar-salahnya akan tetapi dari cara bagaimana gagasan itu diinteraksikan ke pikiran orang lain. 

Interaksi menciptakan experiencing dalam hal business of selling yang di dalamnya mengandung the skill of leadership,  the art of networking, marketing, dan promotion yang dibutuhkan layaknya seorang pejuang. Bisa dibayangkan jika Soekarno atau Mahatma Gandhi tidak didukung oleh rakyatnya, bahkan Bill Gate pun bukan manusia pengecualian jika penemuannya tidak mendapat sambutan dari orang banyak untuk sama-sama merealisasikan penggunaan software komputer yang digagasnya.

Kreasi


Kreasi adalah moment of "Aha!" yang merupakan angka tiga di mana gagasan anda telah menemukan padanan fisiknya  atau sudah bisa bekerja untuk kehidupan anda. Kemerdekaan yang diciptakan Gandhi adalah kreasi termasuk juga putra-putri anda atau pekerjaan yang sekarang menopang hidup anda. Semua itu tercipta setelah muncul gagasan, tindakan, dan interaksi entah dalam bantuk polarisasi, integrasi atau kontradiksi [baca: paradoks] seperti seorang bayi yang pasti dilahirkan dari proses interaksi lawan jenis.

Di jagat raya ini hampir tidak ada yang menyamai kedahsyatan gagasan yang telah menemukan padanan fisiknya. Untuk memperoleh pemahaman ini anda tidak perlu  harus membuka lembaran sejarah yang telah dipenuhi prestasi spektakuler para nabi yang berjuang dengan gagasannya ratusan tahun lalu dan hingga kini masih diperjuangkan pengikutnya, ilmuan atau industrian yang hasil jerih payahnya telah dimasukkan ke dalam asset dunia, atau nenek moyang keluarga kerajaan Inggris dan Saudi yang seakan-akan direlakan oleh bangsanya untuk memiliki suatu negara tanpa batas.  Di sekeliling anda masih banyak manusia yang asal mulanya biasa-biasa tetapi kemudian dibedakan dengan kreasinya sehingga ia tidak hanya sekedar menjadi someone bagi someone akan tetapi menjadi "world" bagi banyak someone.  Banyak kepala keluarga yang menjadi world bagi putra-putrinya,demikian pula seorang pengusaha sukses yang menjadi world bagi banyak karyawannya.  Sekali lagi, itulah gagasan yang telah menemukan padanan fisiknya.  

Tetapi jangan berpikir ke tahap kreasi jika anda sudah memilih takdir untuk menjadi pejuang gagasan orang lain alias pengikut. Kedahsyatan kreasi ditentukan oleh seberapa dalam kreasi tersebut menjadi representasi dari orisinilitas anda sehingga ia memiliki akar kokoh ke tanah terlepas di bidang apapun kreasi anda diimplementasikan. Dengan kata lain, kreasi adalah tahapan dari self-realization dan self-actualization yang ditandai dari start di mana kaki anda tidak ragu-ragu lagi menginjak di atas tanah realitas atau di mana keyakinan anda sepenuhnya diberangkatkan dari dalam ke luar.  

Dengan memahami bagaimana cara mewujudkan sebuah gagasan maka diharapkan gagasan-gagasan yang ada di kepala anda dapat segera terwujudkan. Dengan perwujudan tersebut mudah-mudahan dapat memberikan sumbangan bagi bangsa kita yang memang kaya akan gagasan tetapi sangat miskin realisasinya. Semoga berguna.