Cari Blog Ini

Rabu, 28 Desember 2011

Aku Ingin Maju

Pernahkah Anda mendengar Nanotechnologist, atau ada istilah lain Medical Roboticist, Computer Forensic Analyst, atau Seed Production Engineer, Biomedical Engineer, Biorefinary Plant Specialist?. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak Anda terutama para remaja untuk melihat kedirian kita dalam konteks sosial yang lebih luas, bahwa di luar diri kita, rumah, teman-teman, sekolah, lingkungan kita ada hal menarik untuk dijadikan sandaran, tujuan, pegangan, acuan atau apapun sehingga kita tidak terjebak dalam radius lingkaran yang kecil dalam melihat dan menjalani kehidupan kita.
Jika kita mendengar nama Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Bill Gates, Sergey Brin, Larry Page, hampir semua mengenal mereka sebagai orang muda super sukses. Baru-baru ini peraih hadiah Nobel perdamaian juga orang muda, Tawakul Karmen, wanita 31 tahun seorang jurnalis yang aktif memperjuangkan hak asasi dan kebebasan berekspresi. Kita melihat banyak orang hebat di luar sana, yang tidak cuma pintar di dalam tapi juga punya kontribusi untuk orang lain. Namun jika kita berusaha menilik ke dalam, Indonesia punya banyak sekali orang muda yang luar biasa. Sebut saja seperti Muhammad Aimar dari Pangkal Pinang, peraih medali emas pada Olimpiade Sains Kuark tahun 2011 yang lalu, ada juga Steven Yuwono yang menjadi juara Olimpiade Sains di Taiwan pada 2008 lalu. Kita bisa saja merasionalisasi peristiwa itu sebagai peristiwa langka. Namun bagaimana dengan nama Henrikus Kusbiantoro sang desaigner logo kelas dunia, Sehat Sutardja pendiri Marvell Corporation yang pusatnya di Silicon valley, Oki Gunawan yang bekerja di Pusat Riset IBM atau Merry Riana wanita belia yang sukses di Singapura dan bahkan dinotbatkan sebagai wanita paling sukses dan inspiratif oleh Menpora-nya Singapura. Jika diteruskan, ternyata banyak orang muda Indonesia yang hebat.

Orang "setengah tua" yang hebat pun tidak kalah jumlahnya di negeri ini. Sebut saja Pak Sugiarto yang masih berusia 31 tahun tapi sudah memikirkan bagaimana menghasilkan air bersih buat warganya dan mengawali perjuangannya dengan menanam bibit beberapa jenis pohon,  atau Ibu Tri Mumpuni yang "mencerahkan" masyarakat dengan teknologi listik yang sederhana namun bisa diterapkan dan ternyata manfaatnya amat sangat besar sehingga masyarakat desa tetap bisa membaca di malam hari dan melanjutkan kegiatan lain tanpa terhalang oleh kegelapan; Kak Butet Manurung, Mama Yosepha Alomang -dan masih banyak lagi nama-nama Indonesia yang kiprahnya tidak hanya di peruntukkan bagi kedirian, namun lebih pada kemasyarakatan dan keIndonesiaan.
Seringkali kita berpikir, untuk apa memikirkan yang hebat-hebat dan jauh-jauh, memikirkan persoalan diri sendiri saja sulit dan tidak selesai. Untuk apa repot-repot  berusaha kalau sekarang saja sudah nyaman.

Bergerak,  Berubah dan Maju
Mengacu pada istilah-istilah di paragraph pertama, itu semua adalah jenis  pekerjaan yang dibutuhkan dalam rentang waktu 10 tahun mendatang. Sangat mungkin Indonesia pun membutuhkan jenis pekerjaan tersebut untuk memajukan pertanian, teknologi media & informasi serta  sektor lain seperti konstruksi, industri serta pariwisata. Jika dilihat dari peta Indonesia, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus di bereskan untuk bisa jadi "orang maju" dan masyarakat maju; namun di pihak lain kesempatan untuk berpartisipasi dalam mewujudkannya pun sangat besar. Terlepas dari kondisi pemerintah dan birokrasi serta praktek hukum yang masih tidak jelas, masing-masing pribadi sudah pasti punya tugas dan misi "pribadi" ketika dilahirkan ke dunia ini yang harus di aktualisasikan semasa hidup. Jika dilihat dari kaca mata humanistik, setiap orang punya gravitasi terhadap evolusi sehingga jika proses evolusi ini berjalan serentak, maka tindakan individual akan menjadi gerakan kolektif yang menghasilkan perubahan kolektif. Paragraph kedua, melukiskan orang-orang yang mengaktualisasikan kemampuan dan talentanya, searah dengan hidup mereka masing-masing. Contoh ini ingin mengatakan bahwa setiap orang dibekali talenta dan potensi yang memampukan masing-masing mewujudkan sesuatu yang baik demi kebaikan manusia (for human kind). Jadi mewujudkan sesuatu yang baik tidak mesti jadi orang besar dan orang terkenal dulu; dan mewujudkan yang besar pun tidak selalu membuat kita jadi pahlawan besar dan terkenal. Saya yakin banyak dari pembaca yang asing dengan nama-nama tersebut di atas.   

Hidup dalam ilusi dan otomatisasi
Apa hubungannya antara paragraph satu dan dua? Apakah artikel ini ingin memotivasi pembaca untuk menjadi orang hebat? Tentunya tidak demikian. Sederhananya, artikel ini ingin mengajak pembaca untuk melihat ke dalam diri, supaya menemukan kembali apa yang menjadi rencana hidup masing-masing agar hari lepas hari tidak berjalan begitu saja secara otomatis, karena dalam otomatisasi, tidak ada perubahan dan kemajuan. Di dalam setiap pribadi sudah tentu di tanamkan potensi laten yang akan teraktualisasikan jika ada media dan sarana (waktu, tempat, kesempatan). Pertanyaannya bukanlah apakah kesempatan itu harus dicari ataukah ditunggu. Masalah yang jauh lebih mendasar adalah, apakah do we want to know what can we do and what can we be ? Atau pertanyaan itu malah menimbulkan kecemasan karena seolah kita diingatkan pada sesuatu yang fundamental "sesuatu yang hilang atau terlupakan atau diabaikan karena kekecewaan terhadap situasi, kenyamanan, atau rasa takut jika gagal " atau bahkan takut jika tidak bisa mengelola kesuksesan, sehingga alih-alih berusaha eksploratif dan progresif, malah memilih hidup yang mediocre.  

Para remaja terutama, kini banyak yang kehilangan arah dan tujuan karena otomatisasi dari aktivitas dan illusion of stability (ilusi akan kepastian). Masa remaja memang penuh dengan dinamika yang kadang meriah, kadang suram. Namun di luar dari kejadian sehari-hari, seberapa banyak yang memikirkan secara serius masa depannya dan menjalaninya accordingly secara konsisten, baik dengan cara membekali diri dengan ketrampilan maupun mematangkan ketrampilan dan keahlian yang sudah ada. Berapa banyak yang sudah mencari tahu apa yang dilakukan remaja-remaja di Negara lain, di tempat lain, di pulau lain atau di desa lain. Berapa banyak yang menelusuri masa depan Indonesia dan untuk itu apa yang "saya" butuhkan untuk bisa survive dan eksis di masa nanti; dan "apa yang bisa saya lakukan untuk tanah air ini". Jawaban atas pertanyaan ini seharusnya bisa membawa konsekuensi minimal munculnya tindakan untuk berpikir, sebelum melangkah pada mencari tahu di internet atau teleivisi atau media lainnya. Penemuan itu tidak selamanya positif, sangat mungkin menemukan kesuraman. Akan tetapi terlepas dari realita saat ini, yang perlu dipikirkan adalah persiapan menghadapi realita yang akan datang, bukan ? Masalahnya, apakah dengan sikap mediocre kita bisa menghadapi masa datang ? apakah sikap hidup yang mediocre menjamin kita mampu beradaptasi terhadap perubahan dan pergerakan yang begitu cepat?

Berawal Dari Krisis
Pertanyaan ini jika diarahkan pada diri sendiri, kemungkinan menimbulkan krisis yang seyogyanya tidak dihindari meski membuat hati tidak nyaman. Sayangnya kebanyakan remaja masih banyak yang memilih untuk menghindar berhadapan dengan calon kenyataan ini, dan memenuhi pikiran serta perasaan dengan hal-hal yang "mudah, sederhana  dan menyenangkan",  kalau perlu tidak usah berpikir apalagi memikirkan yang serius-serius.  Padahal, jika di selidiki, setiap remaja pasti punya mimpi besar. Keri Russel mengatakan "Sometimes it's the smallest decisions that can change your life forever". Pepatah ini secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa bukan soal besar kecilnya keputusan maupun tantangan yang dihadapi, namun apakah kita berani membuat keputusan. Otomatisasi membuat kita tidak terbiasa mengubah rutinitas dan kepastian ritme. Kenyamanan membuat kita enggan beresiko; beresiko susah, gagal, kehilangan image, resiko di lecehkan, di tertawakan, di sangsikan, dsb. Namun kita tidak boleh lupa bahwa tidak berubah pun ada resikonya yakni stagnasi dan kematian (dalam arti eksistensial). Tanda-tanda kehidupan adalah perubahan, jika tidak ada perubahan, berarti bukan lagi organism dan artinya kita menghilangkan kemanusiaan kita.
Jika kita tidak berpikir jauh ke depan, maka kita tidak merasa perlu untuk berubah karena masih lebih banyak orang yang terjebak dalam kekinian tanpa melakukan sesuatu yang signifikan baik untuk diri mereka sendiri apalagi untuk orang lain. Salah satu tanda apakah kita terjebak dalam lingkaran semu yang tidak esensial, adalah jika kehidupan kita terasa monoton, berjalan di tempat, tidak ada perubahan kualitas diri, tidak ada penambahan kepandaian atau keahlian, tidak juga tambah maju, bahkan kerap mengalami  persoalan yang serupa hanya kemasan yang berbeda, kasusnya yang beda, atau "pemain" -nya yang berbeda.  Atau, kita menjadi semakin takut terhadap perubahan itu sendiri, jadi ketika ada yang mengkritik, kita jadi sensitive. Jika ada yang mengganti jadwal, kita jadi emosional; ketika ada yang mengganti sistem, kita protes karena harus mempelajari cara baru. Jika merasa demikian, itulah tanda kita harus  mengambil keputusan untuk  merubah cara pikir, merubah kebiasaan, mengambil tindakan nyata, dan bukan sekedar rencana. 

Being, Doing and Becoming
Ada pepatah menarik, "Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it's called the Present". Pepatah ini saya ungkapkan dan sasarkan pada para remaja terutama, supaya kita semua berhenti mengacukan diri pada segala sesuatu yang bersifat sementara, memakai ukuran jangka pendek maupun sibuk dengan persoalan yang tidak esensial / tidak penting karena ternyata hidup ini dibangun dari kekinian di tengah konteks perubahan yang sangat cepat.. Seperti kata Thomas L Friedman, "When the world is flat, whatever can be done will be done. The only question is whether it will be done by you or to you".
Indonesia kelak membutuhkan nanotechnologist, biomedical engineer, self enrichment and educators, energy resources engineer, dan banyak lagi. Pertanyaannya, apakah Anda, para remaja punya kemampuan dan keahlian yang dikatakan di google sebagai pekerjaan yang paling dibutuhkan 10 tahun mendatang.  Apakah kita siap menghadapi perubahan drastic dunia dengan kekinian kita apa adanya ? Apakah kita masih bisa hidup tenang, nyaman, enak pada 10 tahun mendatang dengan kekinian dan kebiasaan yang kita pertahankan ini ? Apakah kita tahu bagaimana menggenapi mimpi kita sendiri  dan apakah kita mampu menggenapi misi kita selama hidup di dunia ini. Mulailah kita menjawab satu per satu pertanyaan itu supaya kita bisa melanjutkan kehidupan ini dengan lebih baik. Cogito Ergo Sum 

Tak Selamanya Sabar Itu Baik


Dalam prakteknya, kita memang tidak bisa memperdebatkan apakah kesabaran itu penting atau tidak. Tidak bisa juga kita memilih untuk menjadi orang yang sabar atau tidak. Sejauh kita ingin memanifestasikan apa yang belum nyata di pikiran, kesabaran itu mutlak dibutuhkan. Pasalnya, semua manifestasi itu butuh proses dan perjuangan. Maksud perjuangan di sini adalah the activity that not only doing, aktivitas yang tidak semata melakukan sesuatu, melainkan usaha yang menuntut pengerahan daya upaya, yang di dalamnya pasti mencakup kesabaran. Kalau kita ingin membangun usaha, dalam skala apapun, pasti modal kita tidak cukup hanya beraktivitas yang biasa-biasa sekalipun kita sudah memiliki modal material dan finansial yang cukup. Membangun usaha butuh pengerahan daya upaya atau biasa kita sebut perjuangan.

Selain sebagai syarat mutlak perjuangan, kesabaran juga memberikan efek mental yang disebut kekuatan batin. Orang menjadi kuat bukan karena kesuksesan.  Kalau Anda tiba-tiba langsung sukses di bisnis, misalnya, belum tentu kesuksesan itu membuat Anda kuat mengelolanya. Kekuatan batin itu dibentuk dari kesabaran kita dalam menghadapi kenyataan pada saat kita memperjuangkan sesuatu. Ini yang membuat para pengusaha senior tidak begitu reaktif terhadap kegagalan atau kerugian. Jiwanya sudah terlatih untuk menjadi kuat. Struktur batin manusia itu sering digambarkan seperti batang pohon. Ia menjadi kuat bukan karena dijauhkan dari terpaan angin atau dari sinar matahari. Ia menjadi kuat karena dilatih oleh terpaan dan sinar. 



Prioritas Kesabaran 
Meski kesabaran itu dibutuhkan di semua aktivitas yang kita sebut perjuangan itu, tetapi kalau melihat prioritasnya, ada situasi dan kondisi tertentu yang menuntut kita untuk harus lebih bersabar. Bila melihat poin-poin penting dari catatan Pak Quraish Shihab, yang bisa kita baca dari buku-buku beliau, beberapa situasi dan kondisi itu antara lain:

1.     Pada saat kita menanti ketetapan Tuhan
Menurut ketetapan Tuhan, apapun yang kita usahakan itu PASTI akan ada balasannya. Cuma, balasan itu seringkali diakhirkan, di tanggal yang kita tidak ketahui seluruhnya, meski ada sebagian yang bisa diketahui. Menanti ketetapan yang belum diketahui ini butuh kesabaran.
 
2.     Pada saat kita menanti bukti yang diragukan orang-orang sekitar
Terkadang kita perlu terobosan yang kreatif dan umumnya terobosan itu menghadapi opini pihak lain yang kurang mendukung. Seperti diungkapkan Einstein, setiap ide yang hebat itu selalu mendapatkan sikap yang kurang mendukung dari orang yang biasa-biasa. Untuk membuktikan bahwa terobosan yang kita ambil itu kreatif (menghasilkan sesuatu yang lebih unggul), dibutuhkan kesabaran.
 
3.     Pada saat menghadapi ejekan / gangguan orang-orang yang menentang.
Tidak berarti kalau kita punya ide / rencana yang bagus, benar, dan bermanfaat itu lantas langsung mendapatkan dukungan dari manusia, seperti misalnya di kita harus ada berbagai komisi tentang hal-hal positif. Umumnya malah ditentang atau dikebiri dulu atau mendapatkan ujian. Rencana itu hanya akan bisa jalan apabila kesabarannya kuat.
 
4.     Saat menghadapi dorongan nafsu untuk membalas dendam
Upaya untuk memukul balik atas apa yang dilakukan orang terhadap kita, memang bisa saja muncul saat kita misalnya diperlakukan kurang baik oleh orang-orang tertentu. Namanya juga manusia. Kita sulit menjadi pemaaf atau orang yang berjiwa besar. Agar ini tidak terjadi, dibutuhkan kesabaran, alias menahan diri.
 
5.     Saat menghadapi keadaan buruk yang di luar rencana
Malapetaka, musibah, bencana, penyakit, atau hal-hal buruk lain yang tidak kita inginkan, memang bisa terjadi kapan saja, entah dari sebab yang logis atau yang beyond logis.  Untuk menghadapinya, dibutuhkan kesabaran.
 
6.     Saat memperjuangkan hasil yang sesuai kebutuhan atau keinginan
Hasil yang sempurna itu terjadi karena dua hal, yaitu good management dan good luck (tangan Tuhan). Terkadang kita mendapatkan yang lebih baik dari rencana tetapi terkadang tidak. Untuk menghadapi seni keadaan yang seperti ini tentu dibutuhkan kesabaran.
 
7.     Pada saat menjalankan pengabdian kepada Tuhan
Semua bentuk pengabdian kepada Tuhan, dari mulai yang kecil sampai ke yang besar, membutuhkan kesabaran. Sebab, di samping ada godaan, terkadang juga situasinya kurang mendukung. Sudah begitu, hasilnya tidak nyata, seperti makan cabe. Karenanya butuh kesabaran.

Tak Selamanya Kesabaran itu Baik
Meski sedemikian prinsipnya kesabaran itu bisa dijelaskan di sini, tapi dalam prakteknya tidak semua yang kita sebut sebagai kesabaran itu membuahkan kekuatan, keberhasilan, atau kemajuan. Atau dengan kata lain, tidak semua  kesabaran itu baik. Seperti apa kesabaran yang berpotensi tidak baik itu? Sebelumnya harus kita sepakati dulu bahwa yang kurang baik di sini tentu bukan konsep dari ajaran sabarnya, tetapi apa yang kita duga sebagai kesabaran itulah yang seringkali berproblem. Misalnya kita bertahan pada keadaan buruk, tanpa ada dorongan untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik dengan memperjuangkan sesuatu. Kita bisa saja menduga bertahan di sini sebagai wujud kesabaran. Padahal, lemahnya dorongan di situ dapat membuahkan keburukan dan ada banyak alasan untuk mengatakannya bukan sebagai kesabaran yang diajarkan.

Kenapa? Kalau melihat kesabaran yang diajarkan, kesabaran itu konteksnya pada berjuang atau pada saat memperjuangkan sesuatu. Sabar itu menunggu, bertahan, atau menghindari, tetapi semua itu kita lakukan pada saat melakukan effort that not only doing itu.  Begitu konteks-nya kita hilangkan, kesabaran kita berubah menjadi kepasrahan terhadap kenyataan buruk. Kepasrahan demikian disebutnya fatalisme yang ditolak oleh semua ajaran dan akal sehat karena keburukan yang akan ditimbulkan.Termasuk dalam pengertian sabar yang kurang baik adalah terlalu tahan terhadap derita; atau yang dalam kajian sains-nya biasa disebut stoisme, bekunya jiwa terhadap rasa derita atau bahagia. Ini membahayakan apabila sudah menumpulkan kreativitas dan daya juang. Kita sudah terlalu tahan terhadap derita sehingga kurang tergerak untuk mencari solusinya.

Kesabaran juga akan berpotensi buruk apabila telah mengurangi kewajiban kita untuk bertanggung jawab, baik personal atau sosial. Seorang suami kurang bisa dibenarkan menyuruh istrinya bersabar pada saat dirinya malas-malasan; atau misalnya lagi kita memilih untuk membiarkan ada anggota keluarga yang perilakunya berpotensi membahayakan dirinya dan orang banyak dengan menggunakan alasan kesabaran. Kesabaran demikian sangat berpotensi mendatangkan keburukan.

Kesabaran juga akan sangat berpotensi mendatangkan keburukan apabila dalam operasinya telah mengabaikan kewajiban kita untuk ber-empati pada orang lain. Kita menasehati orang lain supaya bersabar, dalam arti tidak melakukan apa-apa, sehingga mendatangkan keburukan.

Siklus Aktif Kesabaran
Agar kita terhindar dari praktek kesabaran yang berpotensi membuahkan keburukan, memang perlu ada antisipasi atau koreksi. Antisipasinya bisa kita buat berdasarkan penjelasan banyak ahli di bidang keimanan. Kalau melihat kajian di bidang keimanan, kesabaran itu ternyata bukan ajaran hidup yang berdiri sendiri dan untuk tujuan kesabaran. Kita tidak boleh bersabar hanya untuk bersabar, sebab akan rentan jatuh pada kepasrahan yang kalah, seperti yang sudah kita singgung di atas.

Jadi bagaimana? Kesabaran itu perlu digandengkan dengan keimanan dan kesyukuran dalam bentuk hubungan yang bersiklus dan bekerja secara aktif sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi. Sederhananya bisa kita pahami seperti pada ilustrasi di bawah ini.

Jika dikontekskan dengan kehidupan sehari-hari, pemahaman yang bisa kita bangun itu adalah bahwa kita itu perlu memperjuangkan apa yang kita imani sebagai kebenaran atau kebaikan. Misalnya kita mengimani adanya solusi (pertolongan Tuhan) dari persoalan yang tengah kita hadapi. Tentu, namanya iman itu bukan sebatas mempercayai, melainkan  membuktikan kebenaran dari apa yang kita percayai melalui serangkaian tindakan. Untuk membuktikan itu, pastinya butuh kesabaran, dalam arti menunggu, bertahan, atau melewati proses, sampai berhasil. Setelah solusi itu terwujud, sikap yang secepatnya perlu dimunculkan adalah bersyukur. Syukur dalam arti menggunakan apa yang sudah ada untuk perbaikan, peningkatan, atau hal-hal lain yang membuat hidup kita makin baik, dengan cara-cara yang positif.

Mengabaikan kesyukuran saat hidup sedang OK, dapat membuahkan keburukan. Banyak orang yang justru mendapatkan kesengsaraan dari keberhasilannya, misalnya menyalahkan-gunakan kekuasaan, jabatan, atau melampaui batas, karena kurang bersyukur. Termasuk juga bila kita terlalu lama menikmati keberhasilan. Ditempatkan  menjadi manajer HRD, misalnya begitu, yang semula kita pahami sebagai nikmat, akan berubah menjadi sesuatu yang biasa-biasa atau mungkin menjadi beban, jika kita gagal mengembangkan diri sebagai wujud kesyukuran.  "Walaupun Anda sudah berada di track yang benar, tetapi akan salah bila Anda di situ terlalu lama", pesan Jhon C. Maxwell. 

Bisa juga kita menggunakannya untuk konteks yang agak berbeda. Ketika sedang terkena problem, kita menggunakan keimanan dan kesabaran. Tapi begitu hidup kita lagi OK, bergelimpangan resource, kita menggunakan keimanan dan kesyukuran. Memainkan otak untuk mengetahui kapan menggunakan kesabaran dan kesyukuran yang berakar pada realisasi keimanan inilah yang bisa kita pahami sebagai siklus aktif kesabaran. Kesabaran dengan begitu bukan tujuan, tetapi kendaraan jiwa untuk mencapai tujuan.

Menjaga Jarak Yang Sehat
Kunci lain lagi agar kita tidak terjebak mempraktekkan ajaran yang benar, namun dengan cara yang salah atau mengakibatkan kesalahan adalah dengan menjaga jarak yang sehat.  Saya kira ini tidak saja berlaku untuk kesabaran, tetapi juga untuk yang lain-lain, seperti ketekunan, kebaikan, ketakwaan, dan seterusnya. Menjaga jarak yang sehat di sini maksudnya jangan sampai kita kebablasan (over) sehingga kurang seimbang antara kewajiban untuk menerima kenyataan dan kewajiban untuk memperbaikinya. Misalnya kita tiba-tiba harus menghadapi kenyataan buruk. Saat itu, kewajiban kita adalah menerima kenyataan. Protes atau men-denial-nya malah dapat memperburuk jiwa.  Tapi, ketika sikap demikian itu mulai memunculkan tanda-tanda yang kurang baik, maka kita perlu menggantinya dengan kewajiban memperbaiki kenyataan dengan memunculkan inisiatif dan aksi.

Menjaga jarak juga saat diperlukan antara kapan kita menggunakan kecerdasan dan kapan kita menggunakan keimanan agar terjadi keseimbangan. Keduanya sangat penting sehingga mengabaikan salah satunya secara berlebihan dapat memunculkan masalah. Kalau kita terlalu mengabaikan iman dengan bersandar pada kecerdasan akal, lama-lama akan hampa karena kekeringan nilai-nilai abstrak.  Padahal, di bagian tertentu dari kenyataan yang kita hadapai, nilai-nilai abstrak itu penting. Tapi, kalau sedikit-sedikit lari pada keimanan, dengan mengesampingkan akal, bisa fatal juga akibatnya.

Inovasi Diri

Dalam bukunya "Only The Paranoid Survive" (Currency New York: 1996), Andy Grove menceritakan banyak hal tentang lingkungan bisnis, keputusan dan eksekusi yang dijalankan sehubungan dengan posisinya sebagai CEO dari Intel Co. Langkah Grove mengubah core business dari chip memory ke microprocessor dinilai banyak pihak sebagai kesuksesan bertindak. Sebelumnya, Intel dihadapkan pada banyak dilemma menghadapi serangan produk Jepang yang telah lebih dulu menguasai pasar chip memory di samping juga dilihat dari resource usaha, manufaktur Jepang itu lebih kuat. 

Saat itu Grove menghadapi tiga pilihan yang sama-sama tidak mudah. Pilihan pertama berupa "low cost strategy". Kalau ingin mengalahkan perusahaan Jepang, Intel harus banting harga. Pilihan kedua, kalau tidak sanggup banting harga, Intel harus bermain dalam ceruk pasar yang kecil,  "Niche Market strategy".  Inipun tidak gampang karena konsekuensinya berupa tuntutan pada stabilitas dan margin profit. Ketiga, innovasi produk. Kalau ingin menang, tuntutannya berupa memperbaiki produk supaya lebih terjangkau oleh pasar dengan kualitas lebih dan, yang paling penting, tidak gampang ditiru oleh manufaktur Jepang.

Intel akhirnya memilih pilihan ketiga. Pilihan tersebut ternyata tepat sehingga kemudian mengantarkan Grove dinobatkan  "Man of the year" versi Time magazine, 1997. Inovasi Intel menurut pendapat Grove diawali dari keberanian eksperimentasi dan fleksibilitas dalam menjalankan perubahan produk.  Saat itu dinilai tidak cukup bagi Intel hanya mengandalkan strategi "clear vision" dan "stable" tetapi perlu mengubah konsep berpikir. Seperti diakui Grove: "If company is experiencing rigidity in thinking and resistance to change, that company will not survive in high speed global market place".

Belajar dari langkah Grove yang memulai kesuksesannya dengan menggunakan kata kunci inovasi, rasanya tidak salah kalau kata kunci itu kita gunakan untuk mengawali kesuksesan dalam konteks pengembangan diri.  Kenyataannya,  sekedar inovasi semata sudah tak terhitung yang memahami dan mempraktekkannya baik di tingkat organisasi atau pribadi, tetapi  kebanyakan mandul atau gagal.  Lalu agar tidak gagal, format pemahaman inovasi seperti apakah yang mestinya digunakan?

Menyeluruh 


Kasarnya, bicara ide cemerlang tentu dapat ditemukan di kepala banyak orang atau organisasi, tetapi inovasi tidak berhenti pada ide cemerlang. Tidak pula berupa tindakan yang semata-mata berbeda dengan orang lain sebab inovasi bukan sebuah konsep tunggal dalam arti berubah hanya untuk sekedar berubah (change for the sake of change). Inovasi yang sesungguhnya adalah inovasi yang dipahami sebagai pelaksanaan konsep secara menyeluruh mencakup komponen dan segmennya.  Mengacu pada pendapat Beth Webster dalam "Innovation: we know we need it but how do we do it" (Harbridge Consulting Group: 1990), inovasi adalah menemukan atau mengubah materi pekerjaan atau cara menyelesaikan pekerjaan secara lebih baik.  Dengan definisi ini inovasi mengandung dua komponen: yaitu penemuan (invention),  dan pelaksanaan (implementation), dimana pada tiap komponen terdiri atas empat segmen:
·                     Kreativitas - Generating new ideas
·                     Visi - Knowing where you want to get with it
·                     Komitmen - Mobilizing to get there
·                     Manajamen - Planning and working to get there
Menjalankan inovasi diawali dari eksplorasi untuk menemukan sesuatu yang baru dalam bentuk yang lebih tanpa meninggalkan perangkat lama yang masih baik. Tidak berhenti pada menemukan ide lebih baik, inovasi menuntut langkah berikutnya berupa pelaksanaan uji-realitas. Dalam kasus Intel, Grove menamakannya dengan istilah keberanian eksperimen. Pantas diberi embel-embel keberanian karena eksperimentasi punya resiko paling tinggi terhadap kegagalan sehingga dalam prakteknya banyak orang mengatakan TIDAK terhadap inovasi karena rasa takut menerima resiko itu. 

Selain resiko kegagalan, hambatan di tingkat konsep, praktek, strategi, tekhnis, diri sendiri  dan orang lain juga kerap muncul. Untuk menciptakan solusi yang dibutuhkan, maka kreativitas para innovator berperan. Kreativitas solusi ini diwujudkan dalam bentuk jumlah alternatif solusi terhadap situasi dengan  cara mengubah, mengkombinasikan, mengindentifikasi celah destruktif dari sesuatu yang sudah mapan (established). Menurut riset ilmiah, kuantitas solusi alternatif punya korelasi dengan kualitas solusi. Jadi kreativitas bertumpu pada kemampuan memiliki pola baru dalam melihat  hubungan antar obyek  yang dilahirkan dari sudut pandang adanya "possibility",  dan mempertanyakan sesuatu  untuk memperoleh  jawaban lebih baik. Seorang pakar kreativitas, Arthur Koestler, mengatakan: "Every creative act involve a new innocent of perception, liberated from cataract of accepted belief".

Dalam menjalankan kreativitas menciptakan solusi, innovator perlu memiliki kemampuan menyalakan lampu petunjuk yaitu visi - having clear sense of direction. Artinya, bentuk inovasi seperti apakah yang dilihat secara jelas oleh imajinasi innovator? Semakin jelas padanan fisik dari tujuan inovasi  bisa disaksikan oleh penglihatan mental, maka akan semakin menjadi obyek yang satu atau utuh. Kembali pada pengetahuan tentang pikiran yang baru akan bekerja kalau difokuskan pada obyek utuh, kalau obyeknya masih terpecah tidak karuan, dengan sendirinya pikiran memilih untuk diam atau kacau. Bagaimana mengutuhkan obyek sasaran dalam kaitan dengan kemampuan visualisasi ini? 

Merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam "Creative Visualization" (Creating Strategies Inc.: 2002), para innovator perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:  
1.                   Memiliki tujuan yang jelas
2.                   Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
3.                   Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan
4.                   Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif
Di atas dari semua komponen dan segmen di atas, roh dari inovasi adalah komitmen yang membedakan antara "make or let things happen". Inovasi menuntut komitmen pada "make", bukan membiarkan ide cemerlang menemukan jalannya sendiri di lapangan. Komitmen adalah menolak berbagai macam "excuses" yang tidak diperlukan oleh inovasi. The show must go on. Mengutip pendapat Ralp Marlstone tentang komitmen dikatakan: "Anda tidak bisa menciptakan 'living' hanya dengan ide, kreativitas, visi, melainkan 'you must live' WITH them".  Senada dengan Ralp, Joel Barker mengatakan  "Vision WITH action can change the world". 

Menjalankan ide innovative sebagai pemahaman komprehensif menuntut aplikasi prinsip manajemen yang berarti menggunakan sumber daya di luar kita sebagai kekuatan  berdasarkan keseimbangan riil antara size of planning dan ability of working. Tanpa aplikasi manajemen, sumber daya yang berlimpah di luar sana bisa tidak berguna atau malah menjadi penghambat atau sia-sia. Salah satu keahlian manajemen adalah komunikasi. Tak terbayangkan kalau kerjasama apapun tidak diimbangi dengan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan. Contoh lain yang  menggambarkan pentingnya keseimbangan dalam menjalankan inovasi   adalah fenomena kekecewaan atau kegagalan proposal kerja sama. Dari sudut gagasan, kreativitas, visi, semuanya cemerlang. Tetapi begitu disepakati untuk dijalankan, ternyata masih banyak celah lobang yang belum atau masih di luar kapasitas masing-masing pihak menciptakan solusi. Atau dengan kata lain lebih gede planning for success ketimbang ability of working for success.

Alasan 


Menemukan alasan mengapa kita merasa perlu untuk menjalankan ide innovative untuk memperbaiki kehidupan pribadi atau organisasi merupakan bagian penting dari inovasi itu sebelum dijalankan. Sebagian dari alasan itu antara lain dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.  Perubahan

Dunia ini tidak akan berbeda dengan perubahan yang secara take for granted akan terjadi. Setiap perubahan eksternal menuntut ketepatan memilih respon yang tepat di tingkat internal. Inilah pilihan dari pemahaman hidup yang harus dipegang.  Sayangnya sering ditemukan bahwa orang lebih tertarik untuk membicarakan kemajuan yang diciptakan perubahan dunia luar tanpa dibarengi dengan keingian kuat untuk mengubah diri. Sikap resistance to change yang membabi buta ini pada giliran tertentu akan mengantarkan pada posisi sebagai korban perubahan zaman atau tidak mendapat benefit dari kemajuan. 

Contoh sepele adalah penguasaan bahasa asing, katakanlah bahasa Inggris. Dahulu menjadi rukun profesi dalam arti bagian atau rungan tersendiri dari sebuah profesi. Tetapi sekarang tidak bisa dipungkiri  telah menjadi syarat masuk pintu gerbang yang berarti harus dimiliki oleh semua calon profesi. Mengantisipasi tuntutan perubahan dunia luar,langkah penyelamat yang menjamin adalah mendirikan lembaga learning di dalam diri kita. Materinya bisa diadopsi dari mana saja tergantung kebutuhan dan kemampuan berdasarkan tuntutan lingkungan di mana kita berada.

2.  Keterbatasan

Melakukan inovasi diri harus diberangkatkan dari pemahaman bahwa manusia memiliki kemampuan tak terbatas kecuali batasan yang diciptakan sendiri (self-fulfilling prophecy). Kaitannya dengan inovasi adalah, kemampuan kita merupakan garis pembatas pigura hidup, dan inovasi dibutuhkan dalam rangka memperluas garis pembatas pigora itu. Selain dibutuhkan pemahaman dari dalam juga tidak kalah penting peranan "pil" pemahaman yang disuntikkan oleh pihak luar, meskipun dalam bentuk tawaran memilih. Praktekknya tidak sedikit orang yang meyakini wilayah ‘pigura hidup’-nya bertambah setelah minum pil pemahaman dari sosok yang diyakini lebih terpercaya, misalnya saja paranormal, dukun, penasehat, konsultan, sahabat karib, dll.

Pil pemahaman dari luar inilah yang oleh Dale Carnegie disebut Kelompok Ahli Pikir. Selama pil yang diberikan berupa pil miracle, tentu saja akan sangat dibutuhkan sebab secara alami orang sangat sensitif terhadap pemahaman orang lain tentang dirinya. Justru yang patut disayangkan adalah kalau pil itu berupa stigma killer lalu diterima mentah-mentah, misalnya saja: pasti gagal, rasanya sulit, kayaknya tidak mungkin dll.  Oleh karena itu Mark Twain berpesan: "Jauhkan diri anda dari kelompok orang atau komunitas yang membuat ambisi anda menurun yang biasanya dilakukan oleh pribadi yang kerdil".

3.  Kesenjangan

Alasan lain mengapa inovasi dibutuhkan adalah kenyataan alamiah berupa terjadinya kesenjangan antara alam idealitas dan realitas. Wujud pengakuan fakta alamiah itu harus dibuktikan dengan perbaikan di tingkat realitas dan perubahan format alam idealitas. Seperti kata pepatah, "Gantungkan cita-citamu di langit tetapi jangan lupa kakimu menginjakkan bumi". Maksudnya, terus ciptakan standard yang lebih tinggi dari yang optimal bisa diraih. Bisa dibayangkan, seandainya semua manusia cukup "berpuas-diri", dengan apa yang ada dalam pengertian 'low quality',  maka pasti kemajuan sulit diciptakan. Selain itu akan memudahkan orang terkena virus putus asa, berpikir only one answer, bersikap perfectionist yang berarti bertentangan dengan prinsip dasar inovasi.

Sulit dielakkan, kenyataannya terdapat kecenderungan budaya konformitas berupa ketakutan psikologis untuk bercita-cita tinggi yang dijustifikasi oleh pola berpikir realistik yang keliru dalam arti tidak mencerminkan semangat pengembangan diri ke arah lebih baik. Mestinya, berpikir realistik diartikan menginjak di atas realitas, tidak sebaliknya hidup di dalam realitas. Didasarkan pada pemahaman yang berbeda ini maka terjadi kenyataan yang berbeda. Kendaraan yang berjalan di atas jalan raya dapat diarahkan kemana pun tetapi ketika terperosok di dalam lumpur, pilihannya hanya dientaskan ke atas.

Perlu dicatat bahwa semua alasan yang sudah disebutkan di atas didasarkan pada: 1) perspektif bahwa hidup adalah proses;  dan 2) menjalankan Learning Principle  yang  merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan dari asset potential menjadi asset aktual.  Oleh karena itu  alasan personal lain, apapun yang kita miliki, tuntutan paling penting tetap pada menemukan alasan yang punya korelasi kuat terhadap tindakan yang memiliki akses pada perubahan situasi. Begitu situasi sudah dapat diubah menjadi lebih baik berarti kita sudah melangkahkan kaki pada tujuan akhir dari inovasi yang berarti awal untuk memulai perubahan lain ke arah yang bertambah baik. That is the process.  Semoga berguna.

Mengapa Anak Kian Agresif ?


Laporan studi lain, seperti dikutip Dr. Pelaez, dari Florida International University, mengungkap bahwa anak-anak yang mendapatkan warisan tradisi agresif dari orangtuanya atau keluarga besarnya, akan cenderung menjadi anak yang agresif. Beberapa anak juga sangat mungkin akan tumbuh menjadi agresif karena hidup di tengah lingkungan yang agresif.

Memang, logika hidup yang linier demikian tidak seratus persen merepresentasikan kenyataan. Ada beberapa anak yang punya kapasitas mengoreksi apa yang kurang baik dari orangtua atau lingkungan. Tetapi ini umumnya kembali ke faktor hidayah. Hidayah dalam arti ada pencerahan yang didapatkan dari Tuhan melalui renungan, eksplorasi, atau ajaran kebijaksanaan, misalnya Sidharta, Gandhi, Ibu Theresa, Tao, dan lain-lain.

Nah, dari banyak fakta yang bisa kita amati, perilaku agresif anak yang semula biasa tetapi kemudian berubah menjadi luar biasa itu memang sepertinya mendapatkan dukungan secara tidak langsung dari sikap kita sebagai orangtua. Dukungan yang kita berikan umumnya dalam bentuk:

1.   Selalu menyalahkan televisi. Mungkin televisi itu salah dengan tayangannya, tetapi dia tidak bisa dituntut bertanggung jawab untuk melahirkan anak yang baik.
2.   Hanya mengutuk zaman, kenapa ada facebook, internet, mall dan seterusnya. Zaman akan tetap berubah, terlepas kita kutuk atau tidak. Kitalah yang mestinya harus berubah juga
3.   Memusuhi anak atau memarahinya. Tugas kita adalah mendidik atau mengasuhnya, bukan semata bereaksi secara reaktif terhadap keagresifannya.

Artinya, menuding ke luar, entah ke setan, lingkungan atau zaman, sejauh hanya kita niatkan untuk menuding, kurang bisa membuahkan kebaikan, walaupun mungkin benar. Selain menuding, perlu ada kesadaran untuk meningkatkan kapasitas anak dalam menundukkan insting agresifnya dari kecil.

Bagaimana Keagresifan Berproses? 
Perilaku agresif anak secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hostile agression, misalnya suka memancing permusuhan atau menyakiti temannya tanpa sebab yang kuat atau merampas alat tulis temannya. Yang satu lagi adalah instrumental agression, misalnya dia membanting pintu karena tidak dikabulkan permintaannya. Agresi dijadikan alat untuk mendapatkan keinginan. Menurut riset, anak laki-laki lebih besar kecenderungan untuk bertindak agresif.

Kalau dilihat dari levelnya, mungkin ada anak yang keagresifannya baru pada tingkat ucapan, misalnya sedikit-sedikit menjerit untuk melampiaskan protesnya, berkata dengan nada kasar, seperti dalam sinetron. Tapi ada juga yang sudah sampai pada level tindakan, entah itu yang bersifat hostile atau instrumental. 

Terlepas apapun bentuk dan sifatnya, tapi ada yang secara pendidikan perlu kita bedakan antara pengaruh yang membentuk perilaku anak-anak dan orang dewasa. Untuk kepentingan pendidikan,dan perubahan, kita disarankan untuk meyakini bahwa pengaruh yang paling kuat membentuk perilaku anak adalah faktor eksternal.

Tujuannya adalah supaya muncul inisiatif perbaikan dari cara kita dalam mendidik dan tidak melulu menyalahkan anak. Faktor eksternal apa saja yang paling kuat mempengaruhi anak? Untuk anak yang berusia nol sampai belasan (sebelum remaja senior), pengaruh itu antara lain:

1.     Suasana psikologis yang dialami anak selama berinteraksi dengan orang dewasa di sekitarnya
2.     Kualitas kedekatan dengan orangtua, terutama sang ibu
3.     Tingkat pengenalan terhadap makna hidup 
4.     Suasana rumah tangga
5.     Pola pembiasaan perilaku dalam hidup
6.     Lingkungan sosial
7.     Tayangan yang dilihat anak

Sementara, untuk orang dewasa, secara pendidikannya kita disarankan untuk meyakini bahwa pengaruh yang paling kuat membentuk perilakunya adalah dirinya sendiri. Walaupun dalam prakteknya mungkin tidak begitu, namun dalam keyakinannya harus begitu. Alasannya adalah agar muncul inisitif untuk bertanggung jawab (internal locus of control). Dialah yang harus berubah. Bayangkan kalau sudah mahasiswa, sudah kerja atau sudah berumah tangga,  tapi masih kita ajari untuk menyalahkan dosennya, atasannya, lingkungannya, sopirnya, mertuanya, dan seterusnya. Mungkin dia akan lamban cerdas untuk dirinya sendiri gara-gara kita.

Di tradisi para orangtua kita dulu, pengalihan tanggung jawab dari faktor eksternal ke internal itu ditandai dengan mengadakan Selamatan. Misalnya saja untuk anak perempuan yang sudah menstruasi atau anak laki-laki yang sudah masuk puber. Tujuannya adalah penegasan dan harapan.

Non-Aggressive Environment
Melanjutkan apa yang sudah kita bahas di muka, bahwa faktor eksternallah yang paling berperan mempengaruhi anak-anak kita, maka yang mendesak untuk kita lakukan adalah berinisiatif menciptakan lingkungan yang non-agresif. Pasti ini tidak mudah. Hanya saja, persoalannya bukan mudah atau sulit. Persoalannya adalah apa yang perlu kita lakukan agar keagresifan anak-anak tidak berlanjut hingga usia remaja atau dewasa, yang saat itu sulit dikontrol. Dari beberapa poin yang kita singgung di muka, kira-kira yang perlu kita lakukan itu adalah:

Pertama, mengurangi seoptimal mungkin rewards yang sifatnya menciptakan ancaman psikologis pada anak. Sekali-kali mungkin kita perlu ketawa atau santai saja melihat anak bersuara keras atau membanting pintu. Jika kita mengalahkannya dengan keagresifan juga, dia akan belajar bahwa jurus yang top di dunia ini adalah agresif, seperti ayah-ibu melakukannya. Tapi tidak berarti marah harus dihilangkan. Selain sulit, anak pun perlu tahu sikap kita terhadap perilaku yang kurang beradab. Hanya, yang paling penting bukan marah atau ketawa, tetapi mengantarkan anak memahami perlunya mengurangi perilaku agresif dan pentingnya mengontrol emosi.

Kedua, menciptakan kualitas attachment (kelekatan) yang bagus. Namanya anak-anak pasti lengket sama orangtua atau orang dewasa. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan (comfort and secure). Tapi, dalam prakteknya tujuan itu bisa gagal karena keagresifan orang dewasa. Jika kebiasaan itu terjadi tanpa koreksi apa-apa, anak-anak akan mempunyai kesempatan untuk meng-copy atau menafsirkan perilaku kita. Mungkin tafsiran yang ia ciptakan adalah supaya hidup kita aman dan nyaman, kita harus agresif atau tafsiran lain yang mendukung. 

Ketiga, suasana komunikasi yang lebih berkualitas. Walaupun setiap saat kita berkomunikasi dengan anak-anak di rumah, tetapi soal kualitasnya tidak bisa disamakan. Ada yang diwarnai aksi menyerang secara lisan dan ada yang diwarnai kasih sayang. Kulitas komunikasi yang diwarnai penyerangan dapat menyuburkan sifat-sifat agresif pada anak.

Keempat, disiplin tertentu untuk meningkatkan kontrol diri. Disiplin tidak hanya berefek pada peningkatan intelektual semata, misalnya mendapatkan nilai akademik yang tinggi. Tetapi juga dapat memperbaiki kualitas mental karena dia akan berlatih untuk mrnyuruh dan melarang dirinya. Mengenai cara-cara untuk menerapakan disiplin itu sudah sering kita bahas di sini.

Kelima, mendampingi anak atau mengajak dia berdialog mengenai tayangan televisi untuk melatih sikap dia terhadap kenyataan.  Walaupun tidak rutin tapi kita perlu berusaha mengajak anak untuk mendialogkan perilaku dalam tayangan itu lalu menanyakan sikapnya dan logika yang ia jadikan pijakan dalam menentukan sikap. Semakin kuat konstruksi logikanya, akan semakin kuat juga sikap dia terhadap kehidupan.

Bagaimana dengan pengaruh sosial yang tentu saja di luar kontrol kita? Untuk masalah yang ini, selain memang perlu ada upaya-upaya preventif seperti di atas, kita juga perlu menciptakan upaya preventif lain yang basisnya spiritual. Mendoakan anak adalah salah satunya, seperti yang dilakukan dan disarankan nenek moyang dan leluhur kita.  

Demikian juga dengan kekayaan. Walaupun secara logika-materialisnya tidak memiliki hubungan yang kausatif (sebab akibat) antara kekayaan dengan kualitas perilaku anak, tapi secara spiritualnya hubungan itu disarankan untuk diyakini ada. Ajaran agama mengatakan gen itu menetes.

Lingkungan Sebelum Transaksi
Ada ajaran yang memberi kita tips bagaimana kita membeli rumah. Walaupun mungkin tidak berlaku untuk semua kasus, tapi penting juga untuk kita jadikan patokan. Tips-nya adalah perhatikan dulu lingkungan di sekitar rumah itu sebelum kita bertransaksi.

Bagaimana kalau kita sudah terlanjur menempati rumah yang menurut kita lingkungan tidak mendukung? Kalau kita tidak menemukan lingkungan yang cocok di luar rumah, ya kita harus menciptakannya di dalam rumah. Semoga bermanfaat

Gangguan Keterlambatan Bicara dan Faktor Penyebab

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika            dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan yang diajukan kepada e-psikologi. Untuk itu lah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.
Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.
Untuk memahami lebih lanjut tentang keterlambatan bicara, maka Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak perlu mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

Bila Anak Terlambat Bicara
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.  Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara  dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.

Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

5. Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

EVALUASI PEMERIKSAAN
Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek:
1. Fisiologis dan Neurologis
Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
2. Psikologis
Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya. Jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.