Cari Blog Ini

Kamis, 08 Desember 2011

Terselimuti

 Waktu takkan bisa merubahku dan aku pun tak bisa merubah waktu. Perasaanku pun kepadamu tak bisa berubah, cinta ini membekukan darahku melemahkan jantung dan membuat aku lupa dimana aku berada sehingga tak ada yang ku ingat selain engkau. Ribuan mata telah kupasang pada dinding hari untuk mengawasimu, tak ada satu pun yang lengah atau berkedip dari keindahanmu. Telingaku tak pernah berhenti untuk mendengar suaramu, pikiranku tak pernah mengeluh untuk mengingatmu.
Takkan kubiarkan waktu melenyapkan namamu dari hatiku, takkan kubiarkan angin membawa namamu pergi dari jiwaku. Bagai derasnya hujan menangisi alam, begitu aku tanpamu.
Dirimu dan diriku mungkin seperti bau harum dan busuk serta aku yang busuk itu karena aku berasal dari biji kegelapan yang ditanam di tanah yang tandus dan tanpa setetes air kasih sayang. Sedangkan engkau dari biji cahaya yang di tanam di tanah kesuburan, yang di sampingnya ada sebuah sungai kemakmuran. Keharumanmu takkan dapat menyatu denganku walaupun sesungguhnya aku tak meminta seperti ini.
Di kehidupan, mimpilah yang memberiku semangat dan juga menjadi pelipur laraku karena di kenyataan hidup tak ada yang bisa membuatku bertahan selain engkau. Tapi apakah engkau akan hadir di kehidupan ini dan aku tahu engkau hanya akan hadir dalam panggung mimpi-mimpi.
Angin selalu menusuk telingaku dengan namamu, dilangit pun ketika aku memandang begitu jelas lukisan dirimu, cahaya matahari pun mengukir namamu di tirai-tirai hari. Kenapa mimpi selalu lebih indah dari kenyataan dan aku terus berharap walau mimpiku telah menutupi kenyataan.