Cari Blog Ini

Selasa, 13 Desember 2011

Sebuah Multi Potensi : " Berkah atau Beban ".....???????


Antara Berkah & Beban

Dari namanya saja sudah bisa ditebak apa maksud istilah mutipotensi itu. Multipotensi adalah orang yang punya banyak kelebihan dasar. Kelebihan dasar ini bisa termasuk bakat, kemampuan unggulan umum atau spesifik, kecerdasan dominan, dan lain-lain.  Biasanya, orang yang multipotensi ini juga punya banyak keinginan dan ketertarikan terhadap berbagai bidang.

Konon, Iwan Fals kecil dulu termasuk anak yang punya multi potensi. Selain berbakat di seni tarik suara, Iwan juga berbakat di olahraga. Setelah menerjuni berbagai perlombaan olahraga dan seni, akhirnya ia memutuskan untuk menekuni seni. Olahraga ia jadikan sebagai sarana kesehatan tubuh saja. Kenapa? Menurut kesimpulannya, dunia olahraga menerapkan hukum kalah-menang. Ini diakui tidak klop dengan kepribadian dasarnya. "Olahraga itu keras", begitu katanya.

Jika anda termasuk orang yang punya multi potensi, ini bisa menjadi berkah dan bisa menjadi beban. Berkah maksudnya, anda mendapatkan advantages, manfaat, atau keuntungan dari sekian potensi ungggulan yang ada. Berkah maksudnya, anda bisa menjadi unggul di berbagai bidang atau area (all-round). Sedangkan beban adalah, anda  malah dibikin pusing oleh banyaknya kelebihan yang ada atau malah dibikin bingung dengan berbagai keinginan yang muncul

Kenapa bisa menjadi berkah dan kenapa bisa menjadi beban? Jawabnya sederhana. Potensi itu bukan penjamin keberhasilan atau prestasi. Potensi itu adalah bahan dasar. Supaya bahan dasar itu menjadi barang-jadi, syaratnya harus diolah. Supaya potensi itu menjadi prestasi, syaratnya adalah aktualisasi (menemukan, menggunakan, dan mengaktualkan).

Peranan aktualisasi ini jauh lebih besar dibanding dengan potensi yang kita miliki. Jadi, potensi ditambah aktualisasi sama dengan prestasi. Ini rumus prinsipilnya. Karena itu, ada pelajaran dari temuan para pakar di Exter University, tahun 1998. Setelah mereka melakukan studi terhadap orang-orang seperti Mozart, Edison, Picasco, dan lain-lain, maka kesimpulannya adalah: "marilah kita menghapus mitos".

Mitos yang diyakini oleh kebanyakan  kita adalah, orang-orang hebat itu menjadi hebat karena "diistimewakan Tuhan" dengan bakat-bakatnya. Padahal itu tidak benar. Memang benar, mereka menjadi hebat karena bakatnya tetapi bukan hanya bakat itu yang membuat mereka menjadi hebat. Selain bakat, mereka menjadi hebat karena "practicing", mempraktekkan bakatnya. Konon, Mozart sendiri sebelum akhirnya dinobatkan sebagai maestro, ia mempraktekkan sesuatu selama kurang lebih enam belas tahun.


Problem Umum

Dari banyak catatan yang saya baca, orang yang punya potensi multi ini juga menghadapi banyak problem. Biasalah, namanya juga orang hidup. Kalau kita ditakdirkan tidak punya potensi multi, ini ada masalah juga. Tapi kalau ditakdirkan muti potensi juga, inipun ada masalahnya. Problem umum ini perlu kita ketahui, bukan untuk dipersoalankan, tetapi untuk diantisipasi atau diselesaikan.

Nah, beberapa problem umum yang dihadapi orang berpotensi multi itu antara lain:

Pertama, kesulitan mengambil keputusan dalam memilih  bidang studi, karir atau bidang usaha. Karena kita tidak mungkin melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, maka tugas kita adalah memilih salah satu berdasarkan prioritas. Jika kita tidak bisa memilih salah satu atau sebagian, ini akan menimbulkan beban.

Seorang pelajar yang merasa tahu banyak tentang hal yang banyak akan berpotensi mengalami kesulitan memilih studi lanjutan atau bidang studi tertentu yang ingin ditekuninya sampai mendalam. Seorang karyawan yang punya banyak kebisaan akan berpotensi mengalami kesulitan dalam menentukan profesi yang akan ditekuninya. Begitu juga dengan seorang yang ingin memulai menekuni usaha tertentu. Jika kita merasa banyak cocoknya dengan bidang yang banyak, ini juga kerap memunculkan kesulitan sendiri.

Kedua, incomplete tasks (kesulitan menangani tugas sampai tuntas). Jika kita merasa banyak tahu, kecenderungan kita adalah menangani banyak hal. Jika kita sudah menangani banyak hal, akibat-potensialnya akan ada dua. Kalau itu ternyata sanggup kita selesaikan semua, berarti kita mendapat berkah dari potensi multi yang kita miliki. Tapi bila tidak, berarti kita malah mendapatkan beban.

Sebagian orang yang punya potensi multi kerap menghadapi masalah ini atau yang disebut "overschedule". Ingin menangani banyak masalah, banyak pekerjaan, banyak keinginan, tetapi ujung-ujungnya tidak ada yang tuntas sampai sempurna (complete). Kalau hanya satu dua, mungkin tidak terlalu membebani. Tapi kalau sudah buanyak, tentu ini beban.

Dalam teori pekerjaan, ada dua istilah yang perlu kita ingat, yaitu to finish dan to complete. To finish artinya kita menggarap pekerjaan itu sampai ke tingkat "yang penting selesailah". Sedangkan to complete artinya kita menggarap pekerjaan itu sampai ke tingkat tuntas dan menyenangkan.

Ketiga, stres kerja. Seperti yang sudah sering kita bahas, stres kerja adalah keadaan di mana orang merasa tertekan akibat ketidaksepadanan antara kemampuan dan pekerjaaan, tugas, agenda, atau program. Stres kerja ini bisa muncul dari dalam (diri kita) dan dari luar (orang lain, manajemen, atasan, dst).

Bentuk stressor yang muncul dari dalam itu misalnya kita memberanikan diri (tanpa perhitungan) untuk menangani banyak hal, namun kapasitas atau kemampuan kita belum sampai. Mau tidak mau akan menimbulkan stres. Stres bisa menghambat kreativitas, produktivitas, dan motivasi. Istilah dalam teori manajemennya, stres bisa muncul karena banyaknya distraksi atau keracunan desakan (urgent). Kita merasa semuanya penting dan mendesak padahal kemampuan kita belum sampai.

Keempat, gaya hidup mengkhayal (fantasi). Ada perbedaan antara orang yang punya visi (sasaran hidup yang jelas) dan orang yang hanya punya fantasi (khayalan belaka). Dimana letak perbedaannya? Salah satunya adalah apa yang dilakukan sehari-harinya. Orang yang punya visi menjalankan program, agenda, aktivitas berbasis harian untuk merealisasikan visinya. Dia melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk visinya.

Ini berbeda dengan orang yang hanya punya fantasi. Orang yang punya fantasi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan keinginannya. Atau melakukan banyak aktivitas yang tidak "match-link" dengan tujuannya atau visinya. Meminjam istilahnya Thomas Alva Edison, orang yang punya fantasi ini biasanya hanya punya kesibukan tetapi tidak punya tujuan yang jelas.

Artinya, multipotensiyang kita miliki akan menggeret kita ke budaya hidup mengkhayal (fantasi) apabila kita gagal mengarahkannya dengan visi, tujuan, target atau sasaran yang jelas dan punya hubungan yang jelas dengan aktivitas harian. Kita tergoda untuk menambah keinginan dan kesibukan tapi kejelasannya dipertanyakan.

Kelima, terlena oleh perasaan "merasa mampu". Dalam prakteknya, ada perbedaan yang signifikan antara merasa mampu dan memiliki kemampuan (capable). Memiliki kemampuan, jelas sangat positif. Tapi, merasa mampu, belum tentu. Kalau kita merasa mampu di banyak hal, belum tentu kita memiliki kemampuan di situ. Jika ternyata kita tidak memiliki kemampuan, ini malah negatif buat kita.

Merasa mampu yang demikian itu biasanya lahir dari pengetahuan atau pemahaman yang masih di permukaan (superfisial). Semua persoalan atau semua bidang, jika kita lihat dari permukaannya saja, pasti akan terlihat itu mudah, itu gampang, atau itu bisa dikerjakan. Merasa mampu dibutuhkan apabila itu kita jadikan dorongan untuk memiliki kemampuan. Tapi jika itu hanya kita jadikan sebatas isi perasaan, ini malah membahayakan.

Dengan kata lain, jangan sampai kita hanya puas dengan "merasa mampu" dengan potensi multi yang kita miliki. Ini malah membahayakan. Orang menyebutnya dengan istilah seperti "sok tahu", "sok pinter", "nggak tahu diri", dan lain-lain. Supaya ini tidak terjadi, berarti kita perlu merealisasikan isi perasaan demikian menjadi sebuah bentuk kemampuan yang riil.


Multipotensialitas

Dalam literatur pengembangan karir dikenal istilah "Multipotentiality". Menurut Frederickson & Rothney (1972), multi-potensialitas adalah kemampuan seseorang dalam menyeleksi dan mengembangan berbagai macam opsi karir karena yang bersangkutan punya berbagai ketertarikan, bakat dasar atau kemampuan. Jika kemampuan ini terus diperbaiki, maka berbagai potensi yang kita miliki benar-benar akan menjadi berkah buat kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kemampuan itu bisa dimiliki? Secara garis besar bisa dikatakan bahwa naluri kita sebetulnya sudah mengajarkan. Biasanya ini melalui masalah, kompleksitas atau persoalan yang kita hadapi.  Jika kita benar-benar "aware", kita bisa tahu apa yang diajarkan oleh naluri kita.

Sebagai tambahan, ada beberapa pilihan yang mungkin penting untuk kita lakukan. Pilihan ini antara lain:

Pertama,  tentukan sasaran utama dan sasaran pendukung. Ini mencontoh dari Iwan Fals dan lain-lain. Dia punya sasaran utama, yaitu musik. Olahraga ia jadikan sasaran pendukung. Kalau anda merasa hebat di berbagai bidang, tentukan salah satu yang paling hebat dan yang paling punya prospek bagus, lalu jadikan yang lain-lain sebagai pendukung.

Ini hanya sekedar teknik atau metode agar pikiran ini bisa bekerja lebih fokus, tahu membedakan mana yang paling utama, utama dan yang penting (priority and important). Bagaimana kalau pikiran kita sudah terlatik memfokus pada beberapa hal dan nyatanya semuanya bagus atau tidak mengecewakan? Ini berkah. Jalani saja semuanya. Banyak ‘kan orang yang prestasinya bagus di banyak bidang?

Kedua, tentukan sasaran bertahap. Ini juga sekedar metode. Normalnya, tidak mungkin manusia itu bisa mendalami beberapa hal atau menangani banyak hal secara simultan dalam satu waktu, meski punya banyak potensi. Cara menyiasatinya adalah dengan memiliki sasaran yang bertahap atau bertangga. Rumus yang bisa kita pakai adalah:

§         Be more, jadilah yang lebih bagus, milikilah yang lebih banyak, atau tingkatkan dan kembangkan ke yang lebih tinggi.

§         Learn more, pelajari banyak hal yang relevan dan perbanyaklah belajar, entah itu teori dan praktek

§         Do more, tangani hal yang lebih banyak, lakukan yang lebih banyak, kumpulkan prestasi yang lebih banyak lagi.

Ketiga, kembangkan kemampuan untuk bisa menjadi "ordered and flexibility". Ini saya pinjam dari teorinya Musashi dalam menghadapi berbagai pertempuran. Ordered artinya kita tetap punya lankah yang teratur, ingat sasaran utama dan ingat sasaran pendukung, tahu mana yang utama dan mana yang penting. Sedangkan flexibility artinya kita tetap bisa toleransi terhadap berbagai hal yang di luar program kita.

Kita perlu ingat bahwa selain sebagai makhluk individual yang harus memikirkan diri sendiri, kita pun makhluk sosial yang harus melihat kiri dan kanan. Terlalu sosial tidak bagus. Tetapi kalau terlalu individual juga tidak bagus. Pendeknya, kita perlu belajar menjadi orang yang "ordered" dan orang yang "flexible"

Keempat, jaga hubungan-baik. Kunci menjaga hubungan adalah menaati "agreement" atau kesepakatan, entah itu tertulis atau tidak. Ini terkait dengan problem umum di atas. Beberapa tehnik yang bisa kita lakukan adalah:

§         Jangan main-main / asal-asalan. Jika anda sudah sepakat mengerjakan A, kerjakan seoptimal mungkin. Jangan tergoda untuk main-main atau asal-asalan.
§         Ingatlah apa yang anda sepakati. Ini terkait dengan overschedule di atas. Kalau perlu, catatlah.
§         Buatlah sejelas mungkin. Supaya tidak terkena distraksi atau racun desakan, buatlah kesepakatan itu sejelas mungkin, misalnya kapan waktunya, dimana tempatnya dan lain-lain.
§         Lihatlah dengan siapa anda bersepakat. Tidak semua orang itu bagus dan tidak semua orang itu tidak bagus. Ada orang yang bagus untuk diajak bersepakat dan ada yang tidak. Jika anda membikin kesepakatan dengan orang yang biasa mengingkari kesepakatan, ya mau tidak mau anda juga akan kena getahnya.
§         Renegoisasi. Jika kita tidak bisa atau belum bisa memenuhi kesepakatan yang telah kita bikin, buatlah kesepakatan kedua.

Kelima, lawanlah kerakusan !!. Dalam teori pengembangan atlit, rakus ini pengertiannya agak beda dengan yang jamak kita tahu. Rakus di situ artinya adalah seorang atlit yang ingin mendalami banyak bidang olahrga sekaligus. Atau juga seorang atlit yang ingin langsung mendalami tehnik tertentu tanpa proses. Biasanya, rakus ini malah menghambat kemajuan.

Untuk mengantisipasi itu, dibuatlah metode manajemen pikiran yang formulasinya adalah:

§         Vision: punya visi, punya sasaran yang jelas, dan jelas-jelas diperjuangkan
§         Belief: punya keyakinan yang tinggi
§         Method: menempuh metode pengembangan yang rasional, bukan nafsu.