Cari Blog Ini

Minggu, 18 Desember 2011

Logika Telur Ayam


Mana yang benar menurut praktek hidup antara kita menyatakan bahwa "kalau saya mendapatkan pekerjaan yang saya cintai maka saya akan mencintai pekerjaan itu"  ATAU  "kalau saya mencintai pekerjaan yang ada saat ini maka cinta itu akan mengantarkan saya untuk mendapatkan pekerjaan yang saya cintai...?" Inilah yang kira-kira saya maksudkan logika telor-ayam di sini.

Pernyataan pertama bisa jadi benar karena untuk orang tertentu dalam keadaan tertentu dengan alasan tertentu dan tujuan tertentu, mendapatkan pekerjaan yang dicintai memang cukup mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mencintai pekerjaan. Tetapi ya itu tadi: hanya berlaku untuk keadaan yang sifatnya sangat terbatas (baca: pengecualian)

Kalau kita merujuk pada hasil temuan sejumlah pakar yang dikutip dalam catatan ERIC Clearinghouse on Adult Career and Vocational Education (Columbus OH: 2002), akan kita dapatkan bahwa cinta dan tidak cinta pekerjaan (di luar batasan tertentu itu), lebih banyak disebabkan oleh apa yang terjadi di dalam diri (What is happening IN us), bukan tergantung pada apa yang menimpa kita (What is happening ON us), terlepas dari perbedan istilah tehnis yang mereka gunakan.

Studi ilmiah membuktikan, bahwa penyabab utama mengapa kita tidak sanggup mencintai pekerjaan adalah konflik diri. Ini bukan masalah ada gejolak dan tidak ada gejolak, sebab tidak mungkin orang hidup tanpa gejolak. Dari mana konflik-diri ini muncul? Masih merujuk pada hasil temuan yang sama, konflik diri ini dimunculkan oleh mandeknya roda pengembangan diri (developmental process factors). Kalau kita berhenti mengembangkan diri kita, entah itu melalui pekerjaan atau pendidikan, maka cepat atau lambat kita akan diterpa oleh konflik diri,  seiring dengan bertambahnya kebutuhan dan keinginan kita. 

Lantas, mengapa kita mandek? Bicara maunya kita, mungkin tidak ada orang yang menghendaki kemandekan. Pasti semua orang ingin maju, dinamis, proaktif, dan progresif. Jika  dalam prakteknya kemandekan itu terjadi, lantas apa yang menjadi akar penyebabnya? Ajaran agama menunjukkan kita bahwa kemandekan ini disebabkan oleh kesalahan dalam memilih ke mana penglihatan pikiran ini kita fokuskan.

Kalau kita mengarahkan penglihatan ini pada hal-hal yang berbau “kurang” tentang diri kita maka kesimpulan yang tercetak di kepala kita adalah kesimpulan minus tentang kita. Kesimpulan minus ini akan kita jadikan alat untuk melihat sesuatu di luar diri kita termasuk pekerjaan. Penglihatan kita tidak bisa melihat selain apa yang sudah dipahami oleh pikiran kita. Nah, kalau terhadap diri kita saja pikiran ini sudah punya kesimpulan minus, maka apalagi terhadap pekerjaan? Inilah kira-kira kalau diuraikan urut-urutannya secara sekilas.

Alasan lain yang juga mendukung pendapat para pakar itu, adalah logika kita bersama. Katakanlah bahwa hari ini kita sudah mendapatkan pekerjaan yang kita cintai, tetapi kalau roda dinamika di dalam diri kita berhenti, maka cepat atau lambat pekerjaan itu akan hilang keindahannya di mata kita. Sebab, pasti di dalam pekerjaan yang kita cintai pun akan tetap ada bagian yang tidak kita cintai dan ini hanya bisa diharmoniskan oleh usaha pengembangan diri dalam hal kemampuan menyelesaikan masalah yang muncul (problem solving skill).

Alasan lain adalah fakta alamiah. Andaikan dunia ini selalu tunduk pada rencana kita, tentu saja perdebatan telor-ayam di atas  akan gugur. Semua orang sudah pasti menginginkan agar kita didatangi lebih dulu oleh sesuatu yang kita cintai. Hanya saja praktek hidup tak selamanya tunduk pada rencana kita dan seringkali memberikan kita sebuah tawaran memilih yang kira-kira kalau dikalimatkan akan berbunyi: Apa yang akan anda pilih ketika anda tidak mendapatkan secara utuh apa yang anda inginkan?

Membangun Kepemimpinan Hidup


Apakah kepemimpinan itu bakat yang dibawa sejak lahir atau diciptakan melalui proses pembelajaran? Perdebatan tersebut sebenarnya sudah berakhir dengan kesimpulan bahwa seorang pemimpin harus diciptakan melalui proses pembelajaran, pelatihan, atau pendidikan. Kesimpulan itu punya dalih sangat kuat termasuk salah satunya berupa The Law of Universe bahwa setiap orang akan dinobatkan menjadi pemimpin terlepas ia siap atau tidak siap. Dalam kehidupan anda, yang paling hampir bisa dipastikan, anda akan menjadi pemimpin keluarga.
 Setiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang membutuhkan pemimpin ketika ia harus berhadapan untuk menciptakan solusi hidup di mana kemampuan, keahlian, dan kekuatannya dibatasi oleh sekat yang ia ciptakan sendiri dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas. Tidak saja negara yang diwarnai demontrasi brutal, tetapi institusi keluarga pun jika kepemimpinan tidak ditemukan, maka kesanggupannya hanya melahirkan bayi-bayi biologis tanpa warisan nilai. 

Seberat apapun tugas anda sebagai pemimpin,  terlepas dari formal - non formalnya atau skala besar - kecilnya, maka yang perlu  anda lakukan adalah menciptakan persiapan sempurna menjelang peluang menjadi pemimpin datang. Persiapan adalah bagian dari solusi mental sebelum solusi konkrit harus anda lakukan. Bahkan seringkali peluang apapun baru bisa anda dapatkan setelah anda memiliki persiapan mental yang layak untuk menerimanya.  Sayangnya bagi sebagain besar individu terkadang justru peluang yang dikejar habis-habisan sementara  persiapan mental tidak dilakukan. Contoh kecil misalnya saja dalam pernikahan. Kenyataannya, faktor yang menjadi tolak ukur bagi suatu pernikahan bukanlah usia atau materi meskipun keduanya  syarat mutlak, tetapi tetapi lebih itu adalah persiapan untuk menerima moment tersebut. 

Menyangkut masalah persiapan maka pilihan sepenuhnya berada di bawah kontrol anda; apakah anda mempersiapkan diri sebagai pemimpin atau sama sekali tidak mempersiapkannya. Moment  tersebut akan menjemput anda dan konsekuensinya tergantung dari pilihan yang anda ciptakan. Karena kepemimpinan hidup berupa achievement, bukan gift, maka yang perlu anda persiapkan adalah melakukan perbaikan kepemimpinan dari dalam diri anda. Tentang bagaimana proses alamiah yang harus anda jalani, ikutilah beberapa langkah berikut:

1.  Belajar Siap Dipimpin 

Dalam hal kepemimpinan, dunia ini  hanya memberikan dua pilihan antara anda dipimpin atau memimpin sesuai dengan kapabilitas,  kualitas,  dan kekuatan anda. Kekacauan akan segera terjadi ketika anda dipimpin tetapi melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan pemimpin atau sebaliknya.

Untuk menjadi pemimpin, maka anda harus mengawalinya dengan kesiapan untuk mau dipimpin. Dalam organisasi, bawahan yang tidak siap dipimpin akan kehilangan kesempatan emas untuk mempelajari bagaimana kelak ia akan menjadi seorang pemimpin. Seluruh waktu dan energinya dihabiskan hanya untuk menciptakan reaksi-reaksi sesaat yang sia-sia. Di bidang politik seringkali terjadi kepemimpinan yang diraih dengan cara yang melupakan proses kesiapan dipimpin akan berakhir dengan cara yang sama dengan ketika ia mendapatkannya.

Sebelum anda memimpin orang lain,  maka wujud dari kesiapan untuk dipimpin adalah begaimana memimpin diri anda (Personal Mastery). Wilayah yang harus anda kuasai adalah self understanding (pemahaman diri) dan self management (pengelolaan diri) yang meliputi perangkat nilai hidup, tujuan hidup, misi hidup anda. Kedua kemampuan tersebut akan mengantarkan anda menuju pola kehidupan beradab dan efektif. Dengan kata lain, self understanding dan self management pada saat anda dipimpin akan menciptakan tradisi hidup sehat di mana fokus adalah tujuan akhir, bukan lagi egoisme posisi jangka pendek tetapi realisasi misi. Jika tujuan akhir anda adalah kemajuan dan kebahagian, maka tinggalkan tradisi "Ngerumpi" tentang begitu jelasnya kesalahan hidup yang dilakukan oleh pemimpin anda sehingga akan menjadikan anda kabur melihat sesuatu yang perlu anda lengkapi untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

2.  Belajar Mampu Memimpin 

Sebutan pemimpin terlepas dari perbedaan definisi, perbedaan status formal dan non-formal, perbedaan strata atau job title-nya, mengarah pada satu pemahaman sebagai sumber solusi suatu urusan. Jadi pemimpin adalah orang yang isi pikirannya berupa solusi bukan masalah yang ia rasakan. Maka syarat mutlak yang bersifat fundamental adalah memiliki paket keahlian dan paket  kekuatan. Paket keahlian merujuk pada kualitas personal yang sifatnya internal mulai dari skill, knowledge, attitude,  atau lainnya sedangkan paket kekuatan merujuk pada power  yang bisa berbentuk kekayaan, networking, atau mungkin kekuatan fisik.  Keahlian berguna untuk memimpin kelompok ahli sementara kekuatan berguna untuk memimpin khalayak umum.

Kedua paket tersebut yang menjadikan pemimpin sebagai pemilik suatu urusan bukan lagi menjadi bagiannya, mulai dari urusan pribadi, khalayak, system, atau kiblat hidup orang banyak. Karena sebagai pemilik urusan, maka harga seorang pemimpin senilai dengan harga jumlah orang - orang yang dipimpinnya. Satu Mahatma Gandhi atau satu Soekarno nilainya sama dengan jutaan manusia yang mengkuasakan urusan kehidupan kepadanya.

Di dunia ini tidak ditemukan calon pemimpin yang siap pakai. Tetapi bisa diselesaikan dengan cara belajar mengembangkan diri. Pemimpin yang berhenti mengembangkan keahlian dan kekuatannya maka akan muncul fenomena di mana tantangan kepemimpinan  lebih besar dari kapasitasnya sehingga akan cepat sampai pada titik di mana ia harus di-disqualified-kan untuk segera diganti. Mengapa? Karena semua keputusan yang dihasilkan dari kepemimpinannya ibarat bumbu ayam goreng yang hanya dipoleskan pada permukaan sehingga rasanya tidak menyeluruh atau meresap hingga ke dalam daging ayam tersebut.

Setiap orang tua pernah menjadi anak-anak, setiap atasan pernah menjadi bawahan tetapi tidak semua orang tua dan atasan mampu memimpin ketika ia dinobatkan menjadi pemimpin. Banyak alasan mengapa hal itu terjadi yang antara lain karena keputusan kepemimpinannya kehilangan konteks atau keahlian dan kekuatan memimpin yang digunakan sudah tidak lagi berlaku pada zamannya alias sudah kadaluwarsa. Ketika anda memimpin pahamilah isi pikiran anda ketika menjadi bawahan; ketika anda menjadi atasan jangan lantas melupakan bagaimana anda dahulu menjadi bawahan. Selain itu gunakan keahlian dan kekuatan yang masih relevan untuk kondisi saat itu.

3.  Materi Kepemimpinan

Institusi atau organisasi apapun yang anda pimpin, termasuk kehidupan anda, membutuhkan materi yang bisa dipelajari untuk kemudian diajarkan kepada pihak yang anda pimpin. Karena semua orang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin, maka secara pasti anda  memiliki materi kepemimpinan hidup yang bisa diajarkan. Kendalanya, di manakah file materi hidup itu anda simpan? Filing materi yang tidak sistematik akan menyulitkan anda untuk me-recall-nya ketika materi tersebut harus anda ajarkan. Karena tidak anda temukan file-nya, maka setiap kesalahan orang yang anda pimpin akhirnya diselesaikan tergantung mood

Kenyataan membuktikan, ketika orang tua tidak menemukan file materi untuk diajarkan kepada putra-putrinya; ketika atasan tidak menemukan file materi untuk diajarkan kepada bawahannya, maka  putra-putri atau bawahan anda akan diajar oleh pihak lain. Hal ini tidak menjadi masalah selama pengajaran pihak lain mendukung harapan anda, tetapi bagaimana kalau pengajarannya bertentangan seratus persen dengan nilai, keyakinan, visi, misi anda? Bukan lagi  sekedar persoalan yang pantas disalahkan tetapi juga terkadang memalukan. Putra-putri perlu dididik, bukan sekedar diberi makan; bawahan perlu diberdayakan, bukan sekedar diawasi sebab anda di mata mereka adalah pemimpin yang berarti "The world".

Di bidang bisnis anda pasti sudah mengenal produk perusahaan raksasa bernama Coca Cola, di mana Roberto Goizueto menjadi CEO-nya. Sebagai CEO, ia dikenal sebagai sosok yang sering menceritakan kepada bawahan mengenai bagaimana kehidupan pribadinya di masa muda bersama sang kakek yang menekankan pentingnya cash flow dan kesederhanaan. Begitu juga Phil Knight, CEO dan Chairman NIKE, yang selalu mengobarkan semangat kemenangan perusahaan yang dipimpinnya itu. Di bidang politik,   Martin Luther yang dengan pidatonya berjudul "I Have a Dream" telah memobilisasi power image mengenai kesetaraan kulit hitam dan putih di Amerika.  Noel M. Tichy dalam artikel yang diterbitkan oleh The Drucker Foundation and Jossey-Bass, Inc, 1997, menyebutnya dengan istilah "The Power of Story Telling".
Bagi orang tua, materi yang anda ajarkan kepada putra-putri itu punya daya akses langsung ke karakter melalui alam bawah sadar. Inilah sebenarnya makna yang harus dipahami ketika anda  setuju bahwa keluarga punya peranan penting membentuk karakter anak. Terkadang anda tertipu dengan rule of habit yang sudah habis masa berlakunya yang mengatakan bahwa buah akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Padahal ada angin kencang yang membawa buah itu jatuh ke tempat yang jauh dari pohonnya. Ini berlaku juga untuk wilayah lain mulai dari bisnis, politik, pendidikan dan lain-lain. Oleh karena itu siapkan diri anda dengan materi dan file yang baik sehingga akan menghasilkan buah yang baik pula. Semoga berguna.

Sabtu, 17 Desember 2011

Menjaga Reputasi


Reputasi adalah bunyi pendapat umum (baca: orang lain) tentang karakter atau kualitas kita. Dilihat dari sini reputasi adalah akibat yang diciptakan oleh sebab. Kita tidak bisa mengontrol pendapat orang lain tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita lakukan yang akan menjadi bahan kesimpulan pendapat orang lain. Keharuman reputasi (baca: fame) diperlukan selama apa yang ingin kita realisasikan membutuhkan keterlibatan orang lain. Keharuman reputasi merupakan bagian dari resource yang bisa menciptakan kredibilitas dari orang lain kepada kita. Resource itu bisa digunakan atau akan berguna sebagai bagian dari solusi hidup yang  dibutuhkan sekarang atau nanti.

Pengalaman di lapangan dan juga temuan survey menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang hendak menerima karyawan memprioritaskan pegawai yang direferensikan oleh seseorang dengan reputasi good. Gambaran demikian hanyalah petikan contoh dari sekian persoalan hubungan kita dengan orang lain di mana keharuman reputasi dapat memberi kontribusi keputusan orang lain tentang kita.  Persoalan yang kemudian kerapkali timbul seputar menjaga keharuman reputasi adalah memanipulasi pendapat orang lain tentang kita.

Manipulasi 


Memanipulasi pendapat berangkat dari tesis berpikir bahwa keharuman reputasi perlu diciptakan dengan mengubah / mengontrol pendapat orang lain. Tesis  demikian jelas tidak rasional. Meskipun iklan bisa kita bikin tetapi keputusan tentang bunyi pendapat tetaplah merupakan wilayah yang di luar kontrol. Selain itu, memanipulasi sama dengan  mengangkat kedudukan orang lain sebagai penyebab atas diri kita sementara posisi kita bergeser menjadi akibat. Pergeseran posisi ini bisa menghambat  proses perkembangan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih maju.

Pergeseran dapat mengakibatkan praktek menyerahkan naskah-diri asli kepada orang lain. Praktek ini akan mematahkan proses yang bekerja menuju "the real self" digantikan oleh proses menciptakan "the perceived self", definisi-diri bayangan. Padahal di dalam "the real self" itulah  keunggulan-diri berada yang akan kita gunakan untuk menelusuri arah menuju "the ideal self". Di dalam "the real self" itulah kunci fokus dan kepemilikan tanggung jawab hidup bisa  kita temukan. Begitu naskah asli kita serahkan maka orang lain akan mengisi sesuai dengan kepentingan pribadinya (self interest).

Pergeseran ini juga dapat menyuburkan ketidakyakinan atas prinsip kebenaran yang kita yakini benar. Bentuk ketidakyakinan itu bisa berupa perilaku mencari muka yang pada umumnya kita  masukkan ke dalam perilaku terlarang secara moral. Bentuk mencari muka paling halus dan perlu diwaspadai adalah ketika kita khawatir bahwa perilaku mencari muka oleh orang lain akan bisa mengalahkan kita. Kekhawatiran demikian merupakan produk ketidakyakinan akan kebenaran prinsip yang kita yakini benar. Meskipun di mulut kita menyalahkan tetapi kekhawatiran itu bisa mendorong kita melakukan perilaku yang sama apabila muncul kesempatan dan keahlian.

Pergeseran posisi juga mengakibatkan munculnya virus ketidakpercayaan diri. Bentuk dari ketidakpercyaan diri adalah apabila kita menjadikan diri kita bukan sebagai sumber kualitas hidup yang kita inginkan. Ketidakpercayaan itu membisikkan kalimat bahwa untuk meraih reputasi yang harum kita membutuhkan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini tetapi dimiliki oleh orang lain.

Lingkaran setan akibat itu tidak akan ketemu ujung-pangkalnya kalau tidak dipotong dengan penegasan bahwa kita adalah sebab dari kualitas hidup yang kita inginkan. Kalau kita berpikir bahwa menjaga reputasi tanpa manipulasi itu tidak bisa kita lakukan karena kondisi yang melilit hari ini dan lilitan itu diakibatkan oleh keterbatasan dan keterbatasan itu diakibatkan oleh warisan dan warisan itu juga diakibatkan oleh warisan masa lalu, maka yang terjadi hanyalah self excusing yang membawa kita pada wilayah hidup dengan perasaan hampa kemampuan (rasa tidak berdaya).

Kalau dikembalikan pada hukum keterkaitan (The law of interconnectedness) di dalam diri kita, maka ketiga akibat pergeseran itu tidak saja bekerja di wilayah hubungan kita dengan orang lain melainkan hubungan kita dengan diri sendiri. Pengalaman Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa anda tidak bisa melakukan sesuatu secara benar di salah satu sendi kehidupan ketika anda melakukan kesalahan di sendi kehidupan lainnya.

Contoh yang sering dikemukakan adalah ego kebenaran sendiri. Ternyata hal tersebut tidak bisa kita mengatakan hanya berakibat buruk  kepada orang lain  akan tetapi  dampak buruk paling besar adalah diri kita. Kalau dikaji berdasarkan temuan kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) maka egoisme kebenaran sendiri hanya mengakibatkan satu bahaya (tidak langsung)  kepada orang lain tetapi tiga bahaya (langsung) kepada kita. Interaksi tidak emphatic adalah dampak buruk yang secara tidak langsung menimpa orang lain.  Sementara hilangnya kesadaran diri yang mengakibatkan terkuburnya bakat (keunggulan), hilangnya keseimbangan diri yang mengakibatkan pikiran kita menjadi sampah masalah, dan hilangnya tanggung jawab-diri yang mengakibatkan nasib kita dibentuk oleh orang lain merupakan dampak langsung dari egoisme kebenaran sendiri.

Menciptakan Sebab 


Menjaga reputasi menuntut kreasi sebab yang dapat kita kontrol dari mulai tahap kreasi mental (muatan pikiran, perasaan, keyakinan) dan kreasi fisik (tindakan, pembicaraan, sikap). Orang lain akan membunyikan pendapatnya berdasarkan kesimpulan dari kreasi fisik sementara hukum alam akan bekerja dari sejak kreasi mental dibuat terlepas kita mengakui atau tidak. Beberapa langkah berikut mungkin bisa kita ciptakan untuk menjaga keharuman reputasi:

Karakter Moral

Menciptakan sebab keharuman reputasi menuntut kepemilikan karakter moral yang bersumber pada keyakinan atas kebenaran nilai yang bersifat mutlak. Keyakinan berperan sebagai soko guru mengingat kebenaran nilai itu tidak bisa dilihat (invisible) atau sering dijuluki dengan nilai-nilai gaib. Sepintas watak kebenaran nilai ini kontradiktif sebab pikiran kita tidak bisa bekerja kecuali kalau disodorkan materi yang visible (clear-cut objects). Kontradiksi itu baru bisa diselesaikan apabila kita mampu menggunakan pikiran khusus atau keyakinan mendalam yang oleh Napoleon Hill disebut dengan Infinitive Intelligence (penglihatan pikiran khusus).  Hanya pikiran khusus  yang dapat melihat bahwa kejujuran itu akan membawa keharuman reputasi. Pikiran umum melihat kejujuran itu tidak menguntungkan sama sekali.

Pendek kata, watak kebenaran nilai yang tampil secara gaib itu adalah upaya hukum alam untuk membedakan kualitas keyakinan kita bukan untuk menciptakan kontradiksi antara pikiran dan keyakinan. Perbedaan ini dibuktikan dengan pemberlakuan hukum pembalasan akhir. Semua orang sudah tahu dan yakin kalau pembalasan itu selalu di akhir tetapi yang membedakan bukan keyakinan dan pengetahuan tetapi sejauh mana keyakinan itu bekerja membentuk karakter moral.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan  Antony Robbin: “Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan”. 

Kompetensi

Kompetensi dibutuhkan untuk menciptakan sebab keharuman reputasi dan dibutuhkan juga untuk menjaga keutuhan karakter seperti yang disebut di atas. Sumber kompetensi ini adalah karakter mental yang akan kita gunakan untuk menyelesaikan tantangan  melalui aplikasi keahlian. Semakin besar keahlian kita menyelesaikan tantangan besar semakin harum reputasi kita di mata orang lain. Kalau karakter mental kita sudah kalah dengan tantangan kecil, tentu tidak akan ada orang lain yang berpendapat good walaupun kita sudah mengiklankan diri kemana-mana karena hukum alam pada akhirnya tidak mengizinkan praktek memanipulasi kompetensi alias tidak bisa dibuat-buat.

Isyarat internal yang bisa kita kenali tentang kualitas karakter mental adalah ukuran yang kita ciptakan antara asset internal dan tantangan eksternal. Kalau kita sudah merasa yakin lebih besar dari tantangan hidup yang kita hadapi maka paling tidak kita sudah memiliki kepercayaan diri yang menjadi kunci kompetensi hidup. Meskipun orang bisa menggunakannya untuk menaklukkan gunung tantangan hidup yang membuat orang itu  memiliki keharuman reputasi tetapi di sisi lain keunikan yang dimiliki oleh karakter mental adalah kedahsyatan karakter mental itu bisa dimatikan hanya cukup dengan menggunakan lima karakter huruf: TIDAK. Kalau anda mengatakan "TIDAK BISA" bukan berarti anda tidak mampu tetapi kata TIDAK di sini adalah karakter mental. Kata "TIDAK" bisa menghasilkan kesimpulan mental di mana  tantangan hidup menjadi lebih perkasa dan lebah besar di hadapan kita.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan  Antony Robbin: "Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan". 

Karakter moral dan karakter mental tidak bisa dipisahkan dengan tata letak yang membedakan antara "anak emas" dan "anak buangan". Ada bagian hidup tertentu di mana kejujuran tidak cukup untuk mengatasi tantangan karena tantangan itu menunggu kecakapan (kompetensi) dan demikian juga sebaliknya.

Kreasi Opini

Keharuman reputasi menuntut kreasi opini untuk menciptakan pengertian orang lain yang lebih benar  tentang kita berdasarkan apa yang sebenarnya. Dunia bisnis sering menggunakan seni kreasi opini sebagai metode untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau iklan. Aplikasi seni berkomunikasi ini dibutuhkan karena kesalahpahaman orang lain bisa menjadi sumber fitnah yang bisa mencederai keharuman reputasi. Pepatah bilang: “Tak kenal maka tak sayang”. Hanya saja perlu diakui bahwa perbedaan yang memisahkan antara kreasi opini (the art of communication) dengan memanipulasi opini secara permukaan masih subyektif. Tidak mudah membedakan antara iklan yang menipu dan iklan yang benar-benar iklan.

Foto Hot Tangerang

Download Smadav 8.8 PRO (Key + Serial + Keygen + Crack)


 
Download Smadav 8.8 PRO {Key + Serial + Keygen + Crack}

Smadav 2011 Rev. 8.8 PRO : Penambahan database 150 virus baru, Penyempurnaan auto-scan flashdisk (lebih akurat dan interaktif), Penyempurnaan fitur-fitur yang sudah ada (scanning registry, 2 setting baru, 1-Virus-By-User, dll.)

Key Smadav 8.8 PRO :







Cara menghilangkan Tanda Bajakan pada Smadav 8.8 PRO :
1.      Pertama, Pastikan Smadav tidak sedang dijalankan
(Cek Tray Icon, jika masih ada logo smadav – klik kanan – EXIT)
2.      Lalu hapus file “PIR?SYS.DLL” yang ada di “C:\Windows\System32\PIR?SYS.DLL” (Jika sudah tidak ada, next ke step 3)
3.      Jalankan ‘Registry Editor’ (Caranya : Start – RUN – ketik: regedit) (atau tekan tombol logo WINDOWS + R, ketik: regedit)
4.      Lalu Menuju ke “HKEY_CURRENT_USER – Software – Microsoft – Notepad”
5.      Hapus “lfPitch?ndFamily”, “lfPitch?ndFamily2″, dan “lfPitch?ndFamily3″ (Pokoknya yang ada nama lfPitch?ndFamily-nya)
6.      Tutup Registry Editor
7.      Cek dulu Host Filenya, Dengan cara : ke C:\Windows\System32\drivers\etc – Buka file ‘hosts’ dengan Notepad
Jika ada tulisan ‘# 241.241.241.241 antipiracyworld.com’, hapus tulisan itu – Lalu SAVE
8.      Silahkan jalankan SMADAV 8.8 yang terblacklist, nanti kembali HIJAU kembali
Siap di Registrasi dengan Key yang sudah tersedia