Cari Blog Ini

Sabtu, 17 Desember 2011

Menjaga Reputasi


Reputasi adalah bunyi pendapat umum (baca: orang lain) tentang karakter atau kualitas kita. Dilihat dari sini reputasi adalah akibat yang diciptakan oleh sebab. Kita tidak bisa mengontrol pendapat orang lain tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita lakukan yang akan menjadi bahan kesimpulan pendapat orang lain. Keharuman reputasi (baca: fame) diperlukan selama apa yang ingin kita realisasikan membutuhkan keterlibatan orang lain. Keharuman reputasi merupakan bagian dari resource yang bisa menciptakan kredibilitas dari orang lain kepada kita. Resource itu bisa digunakan atau akan berguna sebagai bagian dari solusi hidup yang  dibutuhkan sekarang atau nanti.

Pengalaman di lapangan dan juga temuan survey menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang hendak menerima karyawan memprioritaskan pegawai yang direferensikan oleh seseorang dengan reputasi good. Gambaran demikian hanyalah petikan contoh dari sekian persoalan hubungan kita dengan orang lain di mana keharuman reputasi dapat memberi kontribusi keputusan orang lain tentang kita.  Persoalan yang kemudian kerapkali timbul seputar menjaga keharuman reputasi adalah memanipulasi pendapat orang lain tentang kita.

Manipulasi 


Memanipulasi pendapat berangkat dari tesis berpikir bahwa keharuman reputasi perlu diciptakan dengan mengubah / mengontrol pendapat orang lain. Tesis  demikian jelas tidak rasional. Meskipun iklan bisa kita bikin tetapi keputusan tentang bunyi pendapat tetaplah merupakan wilayah yang di luar kontrol. Selain itu, memanipulasi sama dengan  mengangkat kedudukan orang lain sebagai penyebab atas diri kita sementara posisi kita bergeser menjadi akibat. Pergeseran posisi ini bisa menghambat  proses perkembangan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih maju.

Pergeseran dapat mengakibatkan praktek menyerahkan naskah-diri asli kepada orang lain. Praktek ini akan mematahkan proses yang bekerja menuju "the real self" digantikan oleh proses menciptakan "the perceived self", definisi-diri bayangan. Padahal di dalam "the real self" itulah  keunggulan-diri berada yang akan kita gunakan untuk menelusuri arah menuju "the ideal self". Di dalam "the real self" itulah kunci fokus dan kepemilikan tanggung jawab hidup bisa  kita temukan. Begitu naskah asli kita serahkan maka orang lain akan mengisi sesuai dengan kepentingan pribadinya (self interest).

Pergeseran ini juga dapat menyuburkan ketidakyakinan atas prinsip kebenaran yang kita yakini benar. Bentuk ketidakyakinan itu bisa berupa perilaku mencari muka yang pada umumnya kita  masukkan ke dalam perilaku terlarang secara moral. Bentuk mencari muka paling halus dan perlu diwaspadai adalah ketika kita khawatir bahwa perilaku mencari muka oleh orang lain akan bisa mengalahkan kita. Kekhawatiran demikian merupakan produk ketidakyakinan akan kebenaran prinsip yang kita yakini benar. Meskipun di mulut kita menyalahkan tetapi kekhawatiran itu bisa mendorong kita melakukan perilaku yang sama apabila muncul kesempatan dan keahlian.

Pergeseran posisi juga mengakibatkan munculnya virus ketidakpercayaan diri. Bentuk dari ketidakpercyaan diri adalah apabila kita menjadikan diri kita bukan sebagai sumber kualitas hidup yang kita inginkan. Ketidakpercayaan itu membisikkan kalimat bahwa untuk meraih reputasi yang harum kita membutuhkan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini tetapi dimiliki oleh orang lain.

Lingkaran setan akibat itu tidak akan ketemu ujung-pangkalnya kalau tidak dipotong dengan penegasan bahwa kita adalah sebab dari kualitas hidup yang kita inginkan. Kalau kita berpikir bahwa menjaga reputasi tanpa manipulasi itu tidak bisa kita lakukan karena kondisi yang melilit hari ini dan lilitan itu diakibatkan oleh keterbatasan dan keterbatasan itu diakibatkan oleh warisan dan warisan itu juga diakibatkan oleh warisan masa lalu, maka yang terjadi hanyalah self excusing yang membawa kita pada wilayah hidup dengan perasaan hampa kemampuan (rasa tidak berdaya).

Kalau dikembalikan pada hukum keterkaitan (The law of interconnectedness) di dalam diri kita, maka ketiga akibat pergeseran itu tidak saja bekerja di wilayah hubungan kita dengan orang lain melainkan hubungan kita dengan diri sendiri. Pengalaman Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa anda tidak bisa melakukan sesuatu secara benar di salah satu sendi kehidupan ketika anda melakukan kesalahan di sendi kehidupan lainnya.

Contoh yang sering dikemukakan adalah ego kebenaran sendiri. Ternyata hal tersebut tidak bisa kita mengatakan hanya berakibat buruk  kepada orang lain  akan tetapi  dampak buruk paling besar adalah diri kita. Kalau dikaji berdasarkan temuan kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) maka egoisme kebenaran sendiri hanya mengakibatkan satu bahaya (tidak langsung)  kepada orang lain tetapi tiga bahaya (langsung) kepada kita. Interaksi tidak emphatic adalah dampak buruk yang secara tidak langsung menimpa orang lain.  Sementara hilangnya kesadaran diri yang mengakibatkan terkuburnya bakat (keunggulan), hilangnya keseimbangan diri yang mengakibatkan pikiran kita menjadi sampah masalah, dan hilangnya tanggung jawab-diri yang mengakibatkan nasib kita dibentuk oleh orang lain merupakan dampak langsung dari egoisme kebenaran sendiri.

Menciptakan Sebab 


Menjaga reputasi menuntut kreasi sebab yang dapat kita kontrol dari mulai tahap kreasi mental (muatan pikiran, perasaan, keyakinan) dan kreasi fisik (tindakan, pembicaraan, sikap). Orang lain akan membunyikan pendapatnya berdasarkan kesimpulan dari kreasi fisik sementara hukum alam akan bekerja dari sejak kreasi mental dibuat terlepas kita mengakui atau tidak. Beberapa langkah berikut mungkin bisa kita ciptakan untuk menjaga keharuman reputasi:

Karakter Moral

Menciptakan sebab keharuman reputasi menuntut kepemilikan karakter moral yang bersumber pada keyakinan atas kebenaran nilai yang bersifat mutlak. Keyakinan berperan sebagai soko guru mengingat kebenaran nilai itu tidak bisa dilihat (invisible) atau sering dijuluki dengan nilai-nilai gaib. Sepintas watak kebenaran nilai ini kontradiktif sebab pikiran kita tidak bisa bekerja kecuali kalau disodorkan materi yang visible (clear-cut objects). Kontradiksi itu baru bisa diselesaikan apabila kita mampu menggunakan pikiran khusus atau keyakinan mendalam yang oleh Napoleon Hill disebut dengan Infinitive Intelligence (penglihatan pikiran khusus).  Hanya pikiran khusus  yang dapat melihat bahwa kejujuran itu akan membawa keharuman reputasi. Pikiran umum melihat kejujuran itu tidak menguntungkan sama sekali.

Pendek kata, watak kebenaran nilai yang tampil secara gaib itu adalah upaya hukum alam untuk membedakan kualitas keyakinan kita bukan untuk menciptakan kontradiksi antara pikiran dan keyakinan. Perbedaan ini dibuktikan dengan pemberlakuan hukum pembalasan akhir. Semua orang sudah tahu dan yakin kalau pembalasan itu selalu di akhir tetapi yang membedakan bukan keyakinan dan pengetahuan tetapi sejauh mana keyakinan itu bekerja membentuk karakter moral.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan  Antony Robbin: “Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan”. 

Kompetensi

Kompetensi dibutuhkan untuk menciptakan sebab keharuman reputasi dan dibutuhkan juga untuk menjaga keutuhan karakter seperti yang disebut di atas. Sumber kompetensi ini adalah karakter mental yang akan kita gunakan untuk menyelesaikan tantangan  melalui aplikasi keahlian. Semakin besar keahlian kita menyelesaikan tantangan besar semakin harum reputasi kita di mata orang lain. Kalau karakter mental kita sudah kalah dengan tantangan kecil, tentu tidak akan ada orang lain yang berpendapat good walaupun kita sudah mengiklankan diri kemana-mana karena hukum alam pada akhirnya tidak mengizinkan praktek memanipulasi kompetensi alias tidak bisa dibuat-buat.

Isyarat internal yang bisa kita kenali tentang kualitas karakter mental adalah ukuran yang kita ciptakan antara asset internal dan tantangan eksternal. Kalau kita sudah merasa yakin lebih besar dari tantangan hidup yang kita hadapi maka paling tidak kita sudah memiliki kepercayaan diri yang menjadi kunci kompetensi hidup. Meskipun orang bisa menggunakannya untuk menaklukkan gunung tantangan hidup yang membuat orang itu  memiliki keharuman reputasi tetapi di sisi lain keunikan yang dimiliki oleh karakter mental adalah kedahsyatan karakter mental itu bisa dimatikan hanya cukup dengan menggunakan lima karakter huruf: TIDAK. Kalau anda mengatakan "TIDAK BISA" bukan berarti anda tidak mampu tetapi kata TIDAK di sini adalah karakter mental. Kata "TIDAK" bisa menghasilkan kesimpulan mental di mana  tantangan hidup menjadi lebih perkasa dan lebah besar di hadapan kita.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan  Antony Robbin: "Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan". 

Karakter moral dan karakter mental tidak bisa dipisahkan dengan tata letak yang membedakan antara "anak emas" dan "anak buangan". Ada bagian hidup tertentu di mana kejujuran tidak cukup untuk mengatasi tantangan karena tantangan itu menunggu kecakapan (kompetensi) dan demikian juga sebaliknya.

Kreasi Opini

Keharuman reputasi menuntut kreasi opini untuk menciptakan pengertian orang lain yang lebih benar  tentang kita berdasarkan apa yang sebenarnya. Dunia bisnis sering menggunakan seni kreasi opini sebagai metode untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau iklan. Aplikasi seni berkomunikasi ini dibutuhkan karena kesalahpahaman orang lain bisa menjadi sumber fitnah yang bisa mencederai keharuman reputasi. Pepatah bilang: “Tak kenal maka tak sayang”. Hanya saja perlu diakui bahwa perbedaan yang memisahkan antara kreasi opini (the art of communication) dengan memanipulasi opini secara permukaan masih subyektif. Tidak mudah membedakan antara iklan yang menipu dan iklan yang benar-benar iklan.