Karbon atau arang
aktif adalah material
yang berbentuk butiran atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung
karbon misalnya batubara, kulit kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan
tertentu yaitu proses aktivasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu
tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas.
Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon,
dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu
tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran
udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut
hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai
bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap
ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih
tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan bahan-bahan kimia
ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan
mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut
sebagai arang aktif.
Dalam satu gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas
500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang
sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif
dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut. Dalam waktu 60
jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh
karena itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai
tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktivasi kembali, meskipun
demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon
aktif sangat tergantung dari metode aktivasi sebelumnya, oleh karena itu perlu
diperhatikan keterangan pada kemasan produk tersebut.
Karbon aktif tersedia dalam berbagai bentuk misalnya gravel, pelet (0.8-5
mm) lembaran fiber, bubuk (PAC : powder active carbon, 0.18 mm atau US mesh 80)
dan butiran-butiran kecil (GAC : Granular Active carbon, 0.2-5 mm) dsb. Serbuk
karbon aktif PAC lebih mudah digunakan dalam pengolahan air dengan sistem
pembubuhan yang sederhana.
Mencari air jernih untuk diminum memang sudah semakin sulit, yang alami
mungkin hanya ada di mata air di gunung dan di oase di gurun. Air jernih pun
akhirnya menjadi produk industri hingga kata generik ‘aqua’ pun menjadi paten
industri, ah jangan sampai kata ‘air’ menjadi merek dagang pula. Fungsi air
untuk diminum pun akhirnya dilebih-lebihkan untuk kepentingan komersial,
seperti yang diulas oleh Priyadi tentang ‘Khasiat’ Air Hexagonal.
Padahal kebutuhan utama manusia terhadap air untuk diminum hanya satu, yaitu
‘air jernih’, jernih menurut warna dan jernih menurut proporsi kandungan
mineral yang terlarut di dalamnya. Dalam tubuh air berfungsi sebagai pelarut,
sebagai carrier pembawa zat-zat lain yang harus diedarkan ke seluruh tubuh dan
banyak lagi fungsi dan manfaat lainnya.
Dengan semakin kotornya air minum, baik dari sumur timba, sumur pompa ataupun
air-supply-nya PDAM, kini semakin banyak keluarga mengurangi konsumsi air
tersebut sebagai air minum dan digantikan dengan membeli ‘air jernih’ hasil
proses industri dalam gelas atau botol plastik.
Sebenarnya, air jernih dari sumur untuk diminum masih bisa didapatkan dengan
proses penjernihan saat memasaknya, yaitu dengan meletakkan arang batok
(tempurung kelapa) di dalamnya (segenggam arang batok sudah lebih dari cukup
untuk memasak satu panci air), sebaiknya arang batok dibungkus dahulu dengan
kain putih bersih. Selama air dipanaskan hingga mendidih arang batok akan
bekerja menyerap zat-zat yang mengotori air, juga menyerap bau serta warna
sehingga menghasilkan air jernih yang siap diminum (didinginkan dulu ya, jangan
minum air mendidih!).
Manfaat air jernih yang lain yang tidak berhubungan adalah untuk mengusir
lalat, yaitu dengan cara menyimpannya dalam plastik bening dan digantung,
biasanya digantung di dapur atau di atas meja makan. Mungkin nanti ada yang
menjual bola kaca berisi air sebagai pengusir lalat yang bisa dipakai di atas
meja makan tanpa merusak pandangan dan suasana.
Mencari air jernih untuk diminum memang sudah semakin sulit, yang alami
mungkin hanya ada di mata air di gunung dan di oase di gurun. Air jernih pun
akhirnya menjadi produk industri hingga kata generik ‘aqua’ pun menjadi paten
industri, ah jangan sampai kata ‘air’ menjadi merek dagang pula. Fungsi air
untuk diminum pun akhirnya dilebih-lebihkan untuk kepentingan komersial,
seperti yang diulas oleh Priyadi tentang ‘Khasiat’ Air Hexagonal.
Padahal kebutuhan utama manusia terhadap air untuk diminum hanya satu, yaitu
‘air jernih’, jernih menurut warna dan jernih menurut proporsi kandungan
mineral yang terlarut di dalamnya. Dalam tubuh air berfungsi sebagai pelarut,
sebagai carrier pembawa zat-zat lain yang harus diedarkan ke seluruh tubuh dan
banyak lagi fungsi dan manfaat lainnya.
Dengan semakin kotornya air minum, baik dari sumur timba, sumur pompa
ataupun air-supply-nya PDAM, kini semakin banyak keluarga mengurangi konsumsi
air tersebut sebagai air minum dan digantikan dengan membeli ‘air jernih’ hasil
proses industri dalam gelas atau botol plastik.
Sebenarnya, air jernih dari sumur untuk diminum masih bisa didapatkan dengan
proses penjernihan saat memasaknya, yaitu dengan meletakkan arang batok
(tempurung kelapa) di dalamnya (segenggam arang batok sudah lebih dari cukup
untuk memasak satu panci air), sebaiknya arang batok dibungkus dahulu dengan
kain putih bersih. Selama air dipanaskan hingga mendidih arang batok akan
bekerja menyerap zat-zat yang mengotori air, juga menyerap bau serta warna
sehingga menghasilkan air jernih yang siap diminum (didinginkan dulu ya, jangan
minum air mendidih!).
Manfaat air jernih yang lain yang tidak berhubungan adalah untuk mengusir
lalat, yaitu dengan cara menyimpannya dalam plastik bening dan digantung,
biasanya digantung di dapur atau di atas meja makan. Mungkin nanti ada yang
menjual bola kaca berisi air sebagai pengusir lalat yang bisa dipakai di atas
meja makan tanpa merusak pandangan dan suasana.